Hubungan Sehat: Tentang Komunikasi yang Sering Diremehkan

ZETIZENS.ID – Dalam setiap hubungan, baik pasangan, keluarga, pertemanan, maupun hubungan kerja, ada satu unsur yang selalu disebut tetapi jarang sungguh-sungguh dipahami: komunikasi.
Kata ini sederhana, hampir terlalu sering diucapkan, sehingga sebagian orang menganggapnya hal biasa. Padahal, jika kita menelusuri dengan jujur, sebagian besar hubungan rusak bukan karena kurangnya cinta, melainkan karena komunikasi yang rapuh, tidak utuh, atau sengaja dihindari.
Kita hidup di zaman dimana pesan dapat dikirim dalam sekejap, tetapi perasaan dan makna justru semakin sering tersesat di tengah jalan. Teknologi memberi kita kecepatan, tetapi bukan kedalaman.
Kita bisa menghubungi siapa saja kapan saja, tetapi tidak selalu benar-benar hadir dalam percakapan tersebut. Di tengah segala kemudahan itu, hubungan manusia justru kerap diwarnai salah paham, ketidakterbukaan, dan kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.
Ironisnya, banyak orang mengira bahwa komunikasi itu otomatis berjalan begitu saja. Karena sudah lama bersama, karena merasa “saling tahu,” atau karena sudah terbiasa menjalani hidup berdampingan.
Padahal tidak ada hubungan yang mampu bertahan tanpa komunikasi yang diperbarui setiap hari. Kita tidak dapat memahami pikiran orang lain tanpa mendengarnya, dan kita tidak bisa berharap dipahami jika kita sendiri menjadikan diam sebagai mekanisme bertahan.
Mengabaikan Hal yang Tak Pernah Diucapkan
Dalam banyak hubungan, masalah besar jarang muncul tiba-tiba. Ia berawal dari hal-hal kecil: teguran yang menyakitkan, rasa kecewa yang ditahan, lelah yang tak dibagi, atau kebutuhan yang tidak pernah diucapkan.
Dalam waktu singkat, semua itu mungkin terasa sepele, tetapi ketika dibiarkan menumpuk, ia menjadi jarak emosional yang semakin sulit dilewati.
Banyak orang memilih diam bukan karena tidak peduli, tetapi karena takut merusak suasana. Takut dianggap berlebihan, sensitif, atau mengganggu. Ada pula yang sejak kecil dibentuk untuk tidak mengeluh, tidak meminta pertolongan, tidak menunjukkan kelemahan. Maka ketika dewasa, berbicara jujur terasa menakutkan—seolah membuka luka yang tidak boleh disentuh.
Padahal, hubungan yang sehat justru membutuhkan ruang bagi percakapan yang sulit. Jika kita hanya berkomunikasi pada saat senang, hubungan kita kehilangan kedalaman. Justru pada momen-momen tidak nyaman—mengakui salah, menyampaikan keluhan, meminta maaf, atau mengakui kebutuhan—hubungan diuji dan dibangun kembali.
Tentang Mendengarkan: Bagian Paling Sulit dari Komunikasi
Banyak yang mengira komunikasi hanyalah soal menyampaikan pikiran dan perasaan. Padahal, bagian terpentingnya justru mendengarkan. Mendengarkan tanpa menginterupsi, tanpa bersiap menyerang balik, tanpa menyusun argumen pembelaan di kepala. Mendengarkan yang sebenarnya adalah upaya memahami, bukan sekadar menunggu giliran untuk berbicara.
Di sinilah tantangan muncul. Kita sering kali cepat tersinggung, cepat bertahan, atau terlalu sibuk mempertahankan versi kebenaran kita. Kita lupa bahwa hubungan bukan tentang siapa yang lebih benar, tetapi tentang bagaimana dua orang bisa saling menyesuaikan agar tetap terhubung.
Ada kalanya seseorang hanya ingin didengar, bukan dinasehati. Ada saatnya mereka menginginkan pelukan, bukan solusi. Ketika kita memahami ini, komunikasi berubah dari sekadar dialog menjadi jembatan emosional yang menenangkan.
Keberanian untuk Rentan
Komunikasi yang sehat menuntut keberanian. Keberanian untuk terbuka, untuk rentan, untuk mengakui bahwa kita butuh orang lain. Namun, kerentanan sering dianggap kelemahan.
Banyak orang takut terlihat rapuh, takut ditolak, takut dianggap membebani. Akibatnya, mereka menahan perasaan, menyembunyikan kekecewaan, dan menumpuk emosi yang belum tersampaikan.
Padahal, hubungan terkuat justru dibangun dari keberanian memperlihatkan sisi paling manusiawi dalam diri kita. Mengatakan “aku sedih,” “aku takut kamu jauh,” atau “aku butuh kamu hadir,” tidak membuat kita lemah—justru menunjukkan bahwa kita percaya pada hubungan yang sedang dijalani.
Kerentanan menciptakan keintiman, dan keintiman menciptakan rasa aman. Ketika dua orang mampu saling terbuka tanpa takut dihakimi, hubungan menemukan bentuknya yang paling matang.
Perbedaan Bukan Musuh
Banyak hubungan yang retak bukan karena perbedaan, tetapi karena ketidakmampuan membicarakan perbedaan tersebut. Kita sering mengharapkan kesamaan mutlak, seolah perbedaan adalah ancaman. Padahal, perbedaan cara berpikir dan merasakan justru membuat hubungan lebih kaya.
Yang perlu diperjuangkan bukanlah kesamaan, melainkan cara mengelola perbedaan itu. Berkompromi, berdiskusi tanpa suara meninggi, memberi ruang bagi pendapat lain, adalah bagian dari komunikasi yang dewasa. Dalam hubungan yang sehat, tidak ada yang harus selalu menang. Yang terpenting bukan siapa yang benar, melainkan bagaimana tetap bersama dalam perbedaan.
Era Sosial Media dan Ilusi Komunikasi
Saat ini, banyak orang tampak dekat secara digital tetapi jauh secara emosional. Kita sering menghabiskan waktu memantau unggahan orang terdekat, tetapi tidak pernah benar-benar berbicara dari hati ke hati.
Media sosial menciptakan ilusi kedekatan: banyak interaksi, sedikit hubungan yang bermakna.
Kita lebih mudah memberi komentar di foto daripada bertanya apakah seseorang baik-baik saja. Lebih cepat membagikan meme lucu daripada membicarakan masalah yang mengganggu.
Ini bukan salah teknologi sepenuhnya—tetapi kita perlu menyadari bahwa hubungan nyata tidak bisa dirawat hanya dengan emoji dan tanda “like.” Ia membutuhkan suara, tatapan, kehadiran, dan kejujuran.
Percakapan Kecil yang Menjaga Hubungan Tetap Hangat
Hubungan tidak hanya bertahan dari percakapan besar, tetapi juga dari rutinitas komunikasi kecil: menanyakan kabar, menunjukkan kepedulian, mengapresiasi hal sederhana.
Orang sering meremehkan hal remeh seperti “bagaimana harimu?” padahal itu bisa menjadi penyambung rasa paling efektif.
Ketika seseorang merasa didengar, mereka merasa dicintai.
Ketika seseorang merasa dihargai, mereka merasa aman. Dan ketika seseorang merasa aman, hubungan dapat berkembang tanpa beban prasangka.
Komunikasi Tidak Menyelesaikan Semua Hal, tetapi Menghindarkan Banyak Luka
Tidak semua masalah bisa selesai dengan dialog, tetapi tanpa komunikasi, hampir tidak ada masalah yang bisa diperbaiki. Komunikasi memberikan kejelasan, mencegah asumsi, dan mengurangi prasangka buruk. Ia menciptakan ruang untuk pemahaman, membuka jalan bagi empati, dan memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
Hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang tidak pernah berselisih. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang tidak berhenti saling mencari, saling mendengar, dan saling memahami—bahkan ketika suasana sedang sulit.
Selama dua orang masih mau berbicara, masih mau mendengar, dan tidak menyerah untuk memahami satu sama lain, hubungan memiliki harapan. Komunikasi mungkin sering diremehkan, tetapi justru di situlah fondasi sejati dari hubungan yang tahan lama. (*)
Ditulis oleh Nabira Alsha Kayla, mahasiswa Untirta







