Merayakan Bahasa, Menggaungkan Talenta: Mahasiswa PLPH Untirta Berhasil Menggelar Acara Semarak Bulan Bahasa di SMPN 2 Petir

ZETIZENS.ID — Mahasiswa Pengenalan Lapangan Persekolahan Holistik (PLPH) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) turut mengambil peran penting dalam memperkuat literasi dan kreativitas siswa SMPN 2 Petir.
Mereka berkolaborasi dengan pihak sekolah untuk menyelenggarakan acara Semarak Bulan Bahasa (SBB) pada 27–28 Oktober 2025, sebagai bentuk nyata implementasi pembelajaran kontekstual di dunia pendidikan.
Dengan mengusung tema “Bahasa Menyatukan, Pemuda Menggelora”, acara ini menjadi wadah bagi siswa untuk mengeksplorasi kemampuan literasi dan menggali potensi seni yang selama ini mungkin tidak terlihat jelas dalam ruang kelas.
Selama dua hari, sekolah berubah menjadi pusat aktivitas seni berpikir dan bersuara melalui tiga kompetisi utama yaitu Lomba Cerdas Cermat, Baca Puisi, dan Solo Vokal.
Perlombaan dilaksanakan di ruang kelas sederhana yang disulap menjadi arena kompetisi. Tanpa tata cahaya mewah atau panggung besar, semangat para peserta justru tampak lebih tulus dan mengalir apa adanya.
Dukungan dari teman-teman mereka menggema di setiap sudut, menegaskan bahwa perayaan bahasa tidak harus berlangsung megah untuk menjadi bermakna.
Di balik suasana yang hidup itu, ada kerja keras yang tak terlihat namun berperan sangat besar. Mahasiswa PLPH Untirta menumpahkan ide, tenaga, dan waktu demi memastikan acara ini terselenggara dengan baik—mulai dari menyusun konsep lomba, berkoordinasi dengan guru, mempersiapkan ruangan, hingga memastikan seluruh rangkaian berjalan tertib.
Kesungguhan mereka membuahkan hasil ketika antusiasme peserta meningkat dan apresiasi mengalir dari seluruh warga sekolah.
Ada kebanggaan yang tidak bisa disembunyikan: segala upaya yang dicurahkan terbayar lunas saat ruang sederhana itu berubah menjadi panggung besar bagi lahirnya prestasi dan kepercayaan diri siswa.
Hari pertama, kemampuan akademik siswa diuji melalui Lomba Cerdas Cermat, lalu di ruangan lainnya lomba Baca Puisi menyingkap sisi puitis yang jarang tersorot.
Hari kedua dibuka dengan Upacara Sumpah Pemuda, mengingatkan seluruh siswa bahwa bahasa Indonesia adalah perekat bangsa. Kemudian dilanjut dengan lomba Solo Vokal yang menjadi ajang keberanian dan ekspresi diri yang memukau banyak mata.
Peserta yang mencuri perhatian publik adalah Afika. Dengan penampilan menonjol, ia meraih Juara 1 Baca Puisi dan Juara 1 Solo Vokal. Ia menyampaikan kebahagiaannya karena akhirnya ada ruang yang memberi siswa kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaik.
“Sebelumnya ga ada acara kayak gini loh kak. Pas tau kalo kakak-kakak mau ngadain acara ini, aku excited bangettt mau ikut lomba baca puisi sama solo vokal. Ehh akhirnya aku menang dua-duanya hehe. Aku seneng banget kak bisa tampil dan berprestasi. Semoga acara kayak gini ada terus yaa,” ujarnya penuh antusias.
Prestasi lain juga datang dari Hilal, yang berhasil membawa pulang Juara 1 Lomba Cerdas Cermat dan Juara 3 Baca Puisi. Ia mengakui dukungan guru menjadi faktor penting keberhasilannya.
“Wali kelas aku effort banget kak, Bu Zahro sampe ngelatih aku baca puisi di rumahnya. Itu sih yang bikin aku percaya diri dan semangat buat tampil maksimal,” ucapnya dengan senyum bangga.
Tidak hanya yang meraih juara, peserta seperti Putri pun merasakan kebanggaan tersendiri meski belum berhasil.
“Aku bangga bisa ikut. Walaupun belum juara, aku dapat pengalaman berharga dan jadi lebih percaya diri kak,” tuturnya tersenyum.
Antusiasme dan dukungan juga datang dari Ibu Nurhayati, S.Pd., guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Petir. Ia menilai kegiatan ini mampu menghadirkan lingkungan literasi yang lebih hidup dan kompetitif.
“Ini kesempatan bagi siswa untuk tampil dan menggali bakatnya. Para juara nantinya akan mewakili sekolah di Gebyar Bulan Bahasa tingkat Kabupaten Serang,” tuturnya penuh harap.
Lebih dari sekadar kompetisi, Semarak Bulan Bahasa menjadi sarana mendorong siswa menemukan jati dirinya, membangun keberanian, serta memperkuat kecintaan terhadap bahasa Indonesia sebagai warisan pemersatu bangsa.
Acara ditutup dengan rasa bangga dan lega yang terasa di wajah semua peserta. Para siswa pulang dengan perasaan senang karena mereka tahu kemampuan mereka dihargai dan keberanian mereka untuk tampil sudah menjadi kemenangan tersendiri.
Sementara itu, mahasiswa PLPH Untirta juga pulang dengan kebahagiaan besar—melihat kerja keras yang mereka lakukan akhirnya membawa pengalaman berharga dan menyenangkan bagi seluruh siswa di SMPN 2 Petir.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa ketika bahasa dirayakan dan bakat diberikan ruang untuk tumbuh, sekolah dapat menjadi tempat yang penuh semangat, harapan, dan peluang untuk masa depan yang lebih cerah. (*)
Ditulis oleh Inaya Shidqia, mahasiswi Untirta







