Karya

Masalah Demokrasi Indonesia dengan Refleksi Filsafat Klasik

ZETIZENS.ID – Dalam hal ini, saya akan mengemukakan opini tentang berbagai permasalahan yang dihadapi demokrasi Indonesia dengan melihatnya melalui lensa filsafat klasik. Refleksi pemikiran tokoh-tokoh seperti Plato dan Aristoteles memberikan kita cara baru memahami sekaligus menilai tantangan yang ada dalam sistem demokrasi kita saat ini.

Saya memang percaya demokrasi adalah sistem yang luar biasa karena pada dasarnya memberikan kekuasaan kepada rakyat. Sebagai warga negara, kita memiliki kesempatan untuk menyuarakan pendapat dan menentukan jalannya negara. Namun, jika saya menilai kondisi demokrasi di Indonesia saat ini, saya merasa masih jauh dari kata sempurna.

Berbagai masalah sering kali menghambat efektivitas demokrasi dan membuat masyarakat merasa bingung bahkan kecewa. Oleh karena itu, saya mencoba melihat hal ini melalui sudut pandang filsafat klasik, khususnya pemikiran Plato dan Aristoteles, untuk menemukan pelajaran berharga bagi kita semua.

Menurut Plato, demokrasi memiliki risiko besar ketika kebebasan rakyat terlalu longgar tanpa aturan yang jelas. Ia memperingatkan bahwa hal ini bisa menyebabkan kekacauan, di mana setiap orang bertindak semaunya sendiri.

Pendapat ini menurut saya sangat relevan jika diamati dari fenomena sosial media dan dinamika politik saat ini. Kebebasan berbicara kadang disalahgunakan untuk menyebarkan informasi palsu, ujaran kebencian, dan tindakan yang memecah-belah masyarakat.

Saya pribadi merasa sedih melihat kondisi ini karena idealnya, demokrasi harus tetap seimbang antara kebebasan dan ketertiban. Saya sangat setuju kalau kita perlu memiliki pemimpin yang bukan hanya populer, tetapi juga bijak dan memiliki visi yang jelas untuk mengarahkan masyarakat dengan cara yang benar dan tegas.

Sementara Plato lebih skeptis terhadap demokrasi, Aristoteles mengajarkan pentingnya keseimbangan dalam sebuah pemerintahan.

Menurutnya, demokrasi harus berjalan beriringan dengan mekanisme kontrol kekuasaan agar penyalahgunaan tidak terjadi. Konsep ini penting saya pikir, terutama melihat situasi kita sekarang yang masih rawan korupsi dan ketimpangan kekuasaan yang berpotensi merusak demokrasi.

Selain itu, saya juga melihat bahwa partisipasi masyarakat dalam demokrasi di Indonesia masih kurang maksimal. Banyak orang yang apatis terhadap politik dan merasa suara mereka tidak memiliki pengaruh nyata.

Hal ini sangat disayangkan karena filosofi demokrasi klasik sangat menekankan peran aktif warga dalam menjaga dan mengawasi jalannya pemerintahan. Jika warga negara tidak peduli dan pasif, demokrasi akan kehilangan kekuatannya sebagai sistem pemerintahan yang sebenarnya.

Saya juga memperhatikan bahwa pendewasaan demokrasi di Indonesia masih berjalan lambat. Banyak kasus politik yang memicu perpecahan dan polarisasi di masyarakat.

Menurut saya, ini adalah tanda bahwa kebijaksanaan dalam mengelola demokrasi masih perlu diasah lebih dalam. Jika tiap elemen masyarakat bisa belajar dari nilai-nilai filsafat klasik seperti kebijaksanaan, keseimbangan, dan tanggung jawab sosial, mungkin kita bisa mengurangi konflik dan membangun demokrasi yang lebih sehat.

Salah satu hal penting yang saya rasakan adalah perlunya pendidikan politik yang lebih baik bagi masyarakat. Pendidikan ini harus menanamkan tidak hanya pengetahuan tentang hak dan kewajiban sebagai pemilih, tetapi juga nilai-nilai moral dan etika dalam berdemokrasi agar kita tidak mudah terjebak pada politik identitas atau kepentingan sesaat.

Pendidikan seperti ini tentunya akan membentuk warga negara yang lebih bijak dan kritis, sehingga demokrasi dapat berjalan sesuai yang diharapkan.

Saya juga yakin bahwa demokrasi bukan hanya soal memilih pemimpin, melainkan sebuah proses yang harus dijalani bersama-sama dengan komitmen untuk saling menghormati, menghargai perbedaan, dan menjaga persatuan bangsa.

Dalam hal ini, filosofi klasik mengajarkan pentingnya sikap moderasi dan keseimbangan, bukan dominasi satu kelompok atau pandangan yang memecah belah.

Untuk itu, saya berharap kita semua sebagai warga negara mampu mengambil pelajaran dari pemikiran klasik yang telah terbukti relevan untuk memahami bagaimana demokrasi bukan hanya sebuah sistem, tapi juga cara hidup bermasyarakat yang harus dipupuk dan dijaga dengan kebijaksanaan dan tanggung jawab.

Singkatnya, demokrasi yang ideal bukanlah milik pemimpin atau elit politik, melainkan milik seluruh rakyat yang sadar, bijak, dan bertanggung jawab.

Saya optimis, jika kita semua mampu merefleksikan dan menerapkan nilai-nilai tersebut, demokrasi Indonesia akan terus berkembang menjadi lebih baik dan menyatukan seluruh lapisan masyarakat demi masa depan yang lebih adil dan makmur. (*)

Ditulis oleh Safana Zahra, mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan Unpam PSDKU Serang

Tulisan Terkait

Back to top button
zetizens.id