Gen Z Berburu Jam Klasik Nan Jadul di Batu Tulis Raya Jakarta, Kenapa?

ZETIZENS.ID – Meski saat ini apapun serba digital termasuk jam tangan, namun kenyataannya masih ada loh para Gen Z yang suka jam tangan klasik nan jadul. Mereka berburu ini di Jalan Batu Tulis Raya, Jakarta Pusat.
Laman Detik membahas, di tempat ini, jam tangan seperti memiliki cara sendiri untuk melawan waktu. Di balik etalase toko-toko yang berjajar, arloji dari berbagai zaman bertemu dalam ruang yang sama.
Jam tangan merk Seiko, Citizen, Omega, hingga merk lain yang pernah menjadi penanda gaya pada masanya.
Bagi pengunjung yang datang sekadar melihat-lihat, tempat ini mungkin tampak seperti deretan toko jam biasa. Namun bagi pencinta arloji lawas, Batu Tulis adalah tempat untuk berburu sesuatu yang tidak selalu bisa ditemukan lewat pencarian biasa, jam dengan usia, karakter, dan cerita yang melekat pada benda itu.
Salah satu toko di kawasan tersebut adalah Toko Jam Amiaw, yang kini diteruskan oleh Kelvin, 27 tahun. Ia adalah generasi kedua yang melanjutkan usaha keluarganya.
Ayahnya telah berkecimpung di dunia jam sejak 1978, jauh sebelum media sosial membuat jual-beli jam vintage semudah membuka Instagram.
Toko di Batu Tulis sendiri mulai beroperasi sekitar 1995, sementara keahlian keluarga Kelvin lebih dulu tumbuh dari pekerjaan memperbaiki jam.
Warisan itu membuat toko Kelvin tidak hanya menjadi tempat transaksi. Sebagian besar aktivitasnya justru berkaitan dengan servis dan reparasi, pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan tentang mesin sekaligus kesabaran menghadapi benda yang usianya tidak lagi muda.
Jam-jam yang datang ke tangannya tidak selalu berada dalam kondisi sempurna. Ada yang perlu diperbaiki, dirawat, atau dikembalikan agar kembali dapat digunakan. Di situlah jam vintage memperoleh kehidupan keduanya.
Kelvin bilang, koleksi di tokonya banyak diisi jam vintage, terutama model-model dari dekade lama. “Mostly yang vintage pastinya ya, karna kita kan di sini emang paling banyaknya adalah jam-jam yang di bawah tahun 70-an, jadi kayak tahun 50-an, tahun 60-an, karna emang kalau kita nyari sesuatu yang timeless kita mesti go beyond that time gitu. Maksudnya kayak ya ambil yang lebih lama, karna yang lebih baru mungkin lebih bisa outdated istilahnya,” jelasnya.
Buat Kelvin, usia justru dapat menjadi salah satu alasan sebuah jam bertahan dalam ingatan. Ketika tren terus berganti dan desain tertentu kehilangan popularitas, model yang memiliki karakter klasik justru dapat kembali dicari.
Di antara pembeli yang datang, Kelvin melihat perubahan yang cukup menarik. Pelanggan toko kini tidak hanya mereka yang sejak lama menggemari horologi atau kolektor yang sudah mengenal berbagai merek.
Belakangan, semakin banyak anak muda datang untuk mencari jam vintage.
“Surprisingly untuk belakangan ini lebih ke yang muda-muda ya, seumuran saya, di atas sedikit. Jadi range-nya antara 22-35 tahun,” ujar Kelvin.
Rentang usia itu membuat Batu Tulis tidak lagi semata-mata menjadi tempat yang diasosiasikan dengan kolektor generasi lebih tua.
Kedatangan anak-anak muda ini, kata Kelvin, memiliki berbagai alasan. Ada yang mengenal jam karena mengikuti hobi orang tua, ada pula yang datang untuk membeli jam pertamanya setelah mengalami pencapaian tertentu dalam hidup.
“Biasanya itu yang turun dari papanya hobinya, misalnya papanya suka jam, anaknya juga ikut suka jam. Atau biasanya dia mau cari jam pertamanya, kayak baru keterima kerja, atau dia baru punya milestone baru dalam hidupnya, biasanya begitu,” katanya.
Menariknya, Kelvin melihat cukup banyak Gen Z yang memang datang dengan tujuan berburu jam. Model yang dicari pun tidak selalu berasal dari merek mewah.
“Banyak, biasanya mereka nyari jam Seiko, Technos,” ujarnya.
Untuk segmen toko Kelvin, harga jam berada di kisaran Rp800 ribu hingga Rp3 jutaan, sehingga masih terdapat ruang bagi pembeli muda yang ingin mulai mengenal jam vintage tanpa langsung masuk ke kategori arloji mewah.
Harga menjadi salah satu pintu masuk, tetapi bukan satu-satunya alasan anak muda tertarik pada jam lawas.
Di tengah budaya konsumsi yang semakin cepat, jam vintage menawarkan sesuatu yang berlawanan.
Benda yang sudah berumur tetapi masih memiliki nilai untuk dikenakan kembali. Model yang sudah pernah populer puluhan tahun lalu dapat muncul lagi di pergelangan anak muda yang lahir jauh setelah jam tersebut dibuat. Ada jarak waktu yang panjang, tetapi justru jarak itulah yang membuat benda tersebut terasa berbeda.
Kelvin melihat kecenderungan itu sebagai bagian dari siklus mode.
“Kalau menurut aku sih karena trend itu kan berputar ya, kayak saat yang satu sudah outdated dia akan balik lagi, ada circle-nya gitu. Nah dari circle itu untuk jam itu kan dari lini masanya sudah terlalu panjang, jadi dia akan selalu suka jam vintage gitu, apalagi merk antik kan emang selalu hype,” tuturnya.
<span;>Batu Tulis, menurut Kelvin, mengalami perubahan karena media sosial. Dulu, pemburu jam vintage memiliki akses informasi yang lebih terbatas dan harus mengetahui ke mana harus mencari.
Kini, foto sebuah jam dapat muncul di layar ponsel dan membuat seseorang yang sebelumnya tidak akrab dengan horologi mulai mengenali merek atau model tertentu.
Perubahan itu membuat hubungan antara toko fisik dan dunia digital menjadi semakin dekat.
Anak muda bisa menemukan inspirasi melalui Instagram, kemudian datang langsung untuk melihat barang, sebaliknya, toko-toko yang sebelumnya mengandalkan pelanggan dari jaringan lama kini memiliki jalan untuk menjangkau calon pembeli yang lebih muda.
Penjualan jam di toko Amiaw tidak melulu melonjak karena tren. Ia menyebut penjualan cenderung stabil, meski belakangan minat dari pembeli muda terasa lebih kuat. (Zee)







