Life Style

Bacha Coffee Menelusuri Sumber Kopi di Kosta Rika, Mengungkap Bagaimana Lahan, Pengetahuan, dan Waktu Membentuk Kopi yang Istimewa

ayang perdana pada Hari Kopi Internasional, Costa Rica: Pura Vida, Pura Tierra mengikuti tujuh generasi budidaya kopi di Volcán Azul serta pencarian cita rasa Bacha Coffee, dari tanah vulkanik hingga Marrakech.

ZETIZENS.ID – Pada Hari Kopi Internasional, Bacha Coffee meluncurkan tayangan perdana Costa Rica: Pura Vida, Pura Tierra, film kedua dalam seri Journeys to the Source. Mengambil latar di dataran tinggi vulkanik Kosta Rika dan disutradarai oleh pembuat film dokumenter Fraser Morton, film ini mengikuti

perjalanan Rüdiger Freytag, Head of Coffee Procurement & Production Bacha Coffee, membawa penonton melampaui istilah asal-usul yang sudah akrab di telinga, menuju keputusan-keputusan nyata yang menentukan cita rasa: varietas, ketinggian, tingkat kematangan, budi daya, pemrosesan, pengeringan, dan waktu.

Seri Film: Keahlian Kopi Berawal dari Sumbernya

Seri film Journeys to the Source mendokumentasikan kerja keras di balik koleksi kopi spesialti 100% Arabika
milik Bacha Coffee.

Seri ini memperlihatkan bentang alam tempat kopi ditanam, serta hubungan jangka panjang yang menjadi sarana para pencicip Bacha Coffee belajar memahami setiap hasil panen.

Bagi Bacha Coffee, pengadaan kopi bukanlah transaksi jarak jauh. Para ahli kopinya rutin kembali ke perkebunan, menyusuri lahan tanam, memeriksa buah ceri kopi, mengamati perubahan iklim dan cara budi
daya, serta mencicipi kopi bersama para petani yang menanam kopi tersebut.

Pengetahuan yang terhimpun ini memungkinkan cita rasa ditelusuri kembali sepanjang siklus hidup biji kopi, sekaligus memberikan para petani pemahaman yang tepat tentang kualitas yang dicari Bacha Coffee.

Film: dimana Hutan Menemukan Jalannya ke Dalam Cangkir

Costa Rica: Pura Vida, Pura Tierra membawa penonton ke Volcán Azul, perkebunan kopi spesialti ternama di lereng Gunung Berapi Poás, tempat satu keluarga yang sama telah
membudidayakan kopi selama tujuh generasi.

Di sini, tanah vulkanik yang kaya mineral, ketinggian, udara sejuk, kelembapan, dan hutan berpadu menciptakan kondisi ideal bagi kopi Arabika untuk tumbuh subur.

Bagian dari arsitektur kualitas: tutupan pohon menurunkan suhu, menjaga kelembapan, dan menopang jaringan kehidupan burung, serangga, tumbuhan, serta mikroorganisme.

Dalam kondisi yang lebih sejuk ini,
buah ceri kopi matang lebih perlahan, sehingga menghasilkan biji yang lebih padat dengan kompleksitas yang lebih kaya.

“Ekosistem yang sehat tidak hanya membantu lingkungan,” jelas salah satu petani dalam film tersebut. “Tetapi juga membantu meningkatkan kualitas kopi kami.”

Dengan kata lain, hutan pada akhirnya menemukan jalannya ke dalam cangkir.
Film ini menempatkan hubungan antara pertanian dan lingkungan tersebut dalam
konteks sejarah kopi Kosta Rika yang lebih luas.

Kopi Arabika mulai mengakar di
negeri ini lebih dari dua abad yang lalu, dan hasil kopi turut membiayai pembangunan jalan, jalur kereta api, serta lembaga-lembaga kebudayaan.

Sejak awal, kualitas selalu diutamakan; pada 1989, Kosta Rika melarang budi daya
komersial kopi Robusta sebagai bagian dari upaya menjaga reputasi hasil
panen Arabikanya.

Di seluruh dataran tinggi negeri ini, curah hujan tropis serta musim hujan dan kemarau yang tegas bertemu dengan suhu yang lebih sejuk di ketinggian. Seiring matangnya buah kopi secara bertahap, kandungan gula
berkembang, biji kopi menjadi lebih padat, dimana keasaman, rasa manis, aroma, serta kompleksitas mulai terbentuk. Pencarian cita rasa dimulai jauh sebelum kopi sampai di mesin pemanggangan (roaster).

Dari 300 hektar lahan perkebunan, sekitar 220 hektar didedikasikan untuk konservasi. Hutan tidak dihadirkan sebagai pemandangan semata, melainkan sebagai Di Volcán Azul, pengetahuan turun-temurun terus diuji menghadapi kondisi yang berubah. Keluarga di balik perkebunan ini melindungi tanaman penutup tanah, mengembalikan pohon peneduh ke area perkebunan, mengurangi penggunaan herbisida, dan mendorong keanekaragaman hayati, sembari terus menyempurnakan cara berbagai varietas kopi dibudidayakan dan diproses.

Tradisi di sini tidaklah statis, melainkan sebuah himpunan pengamatan, eksperimen, dan penilaian yang terus berkembang.

Film ini mengikuti empat kopi pilihan dari Bacha Coffee — Volcán Azul Gesha, Volcán Azul Red Honey, Naranjo Mountain, dan Volcán Azul — yang masing-masing mengekspresikan karakter berbeda dari terroir Kosta Rika.

Varietas dan ketinggian memang berpengaruh terhadap hasil panen, tetapi pemrosesan menciptakan kosakata cita rasa tersendiri.

“Ada beberapa alasan untuk datang langsung ke sumber kopi. Ini adalah tentang hubungan dengan petani. Agar mereka memahami
apa yang kami cari, dan agar kami memahami bagaimana kopi ditanam, bagaimana prosesnya berkembang secara nyata,” jelas Rüdiger Freytag, Head of Coffee Procurement & Production Bacha Coffee.

Di meja cupping, bentang lahan menjadi mudah dikenali. Varietas, ketinggian, tingkat kematangan, fermentasi, pemrosesan, dan pengeringan bertemu kembali di dalam cangkir.

Bagi seorang ahli kopi yang
berpengalaman, cita rasa dapat dirunut ke belakang: nuansa floral dapat menunjukkan varietas dan ketinggian; rasa manis menandakan kematangan atau proses pengolahan; kejernihan rasa mencerminkan
presisi metode kopi washed.

Secangkir kopi menjadi catatan dari seluruh proses yang dilaluinya.

“Di Bacha Coffee, kami percaya bahwa kopi yang istimewa bermula jauh sebelum sampai ke cangkir. Bermula dari lahan, dari orang-orang yang merawatnya, dan dari pengetahuan lintas generasi yang
diwariskan dari satu tangan ke tangan berikutnya. Melalui Journeys to the Source, kami ingin mendekatkan kisah-kisah ini kepada para tamu kami, mengungkap sosok, tempat, dan savoir-faire (keahlian) di balik setiap kopi istimewa,” ujar Taha Bouqdib, President & CEO Bacha Coffee.

Dalam honey processing, sebagian lapisan lendir (mucilage) buah kopi yang manis secara alami dibiarkan menyelimuti biji selama
pengeringan. Waktu, suhu, dan kelembapan harus dikendalikan dengan presisi, karena mempengaruhi rasa manis, karakter buah,
body, dan tekstur.

Sementara pada proses kopi fully washed, daging buah dilepaskan sebelum pengeringan, sehingga kualitas intrinsik biji dapat muncul dengan kejernihan yang istimewa.

Kopi spesialti tidak hanya ditentukan oleh kelangkaannya semata, melainkan juga oleh kualitas dan keunikan yang terungkap di dalam cangkir. Kopi dinilai oleh para profesional berkualifikasi berdasarkan atribut seperti aroma, cita rasa, body, keasaman, keseimbangan, dan kualitas keseluruhan.

Bacha Coffee berdedikasi secara eksklusif pada kopi spesialti 100% Arabika, yang dipilih dari perkebunan di berbagai wilayah
penghasil kopi dunia.

Kerja sama Bacha Coffee dengan para produsen terus berlanjut setelah
tahap seleksi. Kunjungan berkala, sesi mencicipi bersama, dan dialog
berkelanjutan menciptakan siklus yang berpusat pada kualitas: para petani
memahami profil yang dicari Bacha Coffee dan dapat bereksperimen dengan
varietas, budi daya, serta pemrosesan; sebaliknya, para pencicip Bacha
Coffee memahami kondisi dan keputusan di balik setiap panen.

Keistimewaan Bacha Coffee: dari Kopi Hijau Hingga Penyangraian

Pembuat film Fraser Morton menggambarkan pengalaman ini dengan nada yang sama manusiawinya: “Menanam kopi yang istimewa membutuhkan perhatian. Ia membutuhkan tanah yang sehat, pengetahuan, hubungan, kesabaran, dan orang-orang yang bersedia peduli pada detail-detail yang tidak akan pernah dilihat oleh sebagian besar dari kita.”

Costa Rica: Pura Vida, Pura Tierra menghadirkan detail-detail itu ke
hadapan penonton — dan mengungkap alasan mengapa detail itu sangat menentukan hasil di dalam cangkir.

“Saat mencicipi kopi, Anda mencari kompleksitas dalam secangkir kopi,” ujar Rüdiger Freytag. “Anda mencari semua cita rasa istimewa yang tidak akan Anda temukan pada kopi produksi massal.”

Cita Rasa Kosta Rika: Empat Ekspresi Terroir

Tanah vulkanik, ketinggian, dan iklim mikro Kosta Rika menghasilkan kopi yang dihargai karena cita rasanya yang semarak, keasaman yang halus, dan kompleksitasnya.

Dalam film ini, empat kopi pilihan Bacha
Coffee membentuk peta sensorik negeri tersebut: sebuah Gesha peraih
penghargaan, kopi Red Honey dengan karakter buah yang menonjol, serta dua kopi fully washed yang jernih dan berstruktur.

Bersama-sama, Volcán Azul Gesha Coffee, Volcán Azul Red Honey
Coffee, Volcán Azul Coffee, dan Naranjo Mountain Coffee menunjukkan
bahwa asal-usul tidak hanya mewakili satu cita rasa tunggal.

Setiap cangkir merekam perpaduan yang khas antara tempat, varietas, penilaian manusia, dan proses pengolahan.

Volcán Azul Gesha Coffee Sebuah micro-batch eksklusif peraih penghargaan yang tumbuh di ketinggian lebih dari 1.500 meter di lereng Gunung Berapi Poás dan dipetik dengan tangan pada tingkat kematangan optimal. Kopi Gesha ini menghadirkan sentuhan rasa madu yang pekat dan dark chocolate liquor, diperkaya oleh keasaman yang mengingatkan pada buah plum Mirabelle. (Sobri)

Al Sobri

Senang menyapa meski kadang nggak balik disapa. Suka berlari meski kadang nggak dapat medali. Journalist.

Tulisan Terkait

zetizens.id