Lebih Cepat Masuk ke Hati, Ini Alasan Lagu Galau Lebih Digemari di Indonesia

ZETIZENS.ID – Lagu bertema patah hati, kehilangan, hingga kerinduan tak pernahkehilangan tempat di hati pendengar Indonesia. Dari lagu baru hingga karya legendaris yangdirilis puluhan tahun lalu, tema galau masih terus mendominasi playlylilisist.
Platfoform yang menganalisis playlist Spotifyfy, Is It a Good Playlylilisist, menilai tingkat dance abiility dan energy yang dimiliki lagu-lagu dalam daftar putar populer di Indonesia tahun 2026.
Analisis terhadap 70 lagu populer di Indonesia menunjukkan bahwa mayoritas lagu yang digemari memiliki tempo sedang cenderung santai hingga lambat dan tingkat energi yang relatif rendah.
Temuan ini mengindikasikan bahwa pendengar Indonesia cenderung menyukai lagu-lagu yang lebih reflektif dan emosional dibanding lagu dengan ritme cepat dan energi tinggi.
Lagu-lagu rock hingga death metal dianggap memiliki energi tinggi, sementara lagu klasikdigolongkan dalam skala energi rendah.
Dari perspektif energi suatu lagu, platfoform analisis tersebut juga menunjukkan bahwa lagu populer di Indonesia lebih banyak yang memiliki energi rendah.
Data menunjukkan bahwa lagu bernada sendu atau tempo lambat memiliki lebih banyak penggemar di Indonesia.
Fenomena ini juga terlihat dari lagu-lagu bertema patah hati, kehilangan, maupun kerinduanyang terus populer di berbagai platfoform musik.Menurut pengamat musik Igun Sudarmono, lagu galau memang lebih mudah populer diIndonesia.
Menurut Igun, hal ini karena lagu bernada sendu cenderung mampu mewakiliperasaan pendengarnya.
“Saat sebuah lagu terasa personal, orang akan terus memutarnya dan membagikannya. Ikatanemosional inilah yang membuat lagu galau cenderung bertahan lebih lama dibanding lagu yangsekadar mengikuti tren,” ujar Igun.
Meski demikian, ia memandang belakangan ini tren musik Indonesia semakin beragam danbatas genre lebih cair.
Di satu sisi pop memang masih mendominasi, tetapi pengaruh musik lainmembuat genre ini menjadi lebih kaya.
“Di era digital, pendengar tidak hanya mencari lagu yang enak didengar, tetapi juga memilikicerita, karakter, dan terasa jujur. Pada akhirnya, kualitas dan kedekatan emosional tetapmenjadi kunci sebuah lagu bisa bertahan,” katanya menambahkan.
Sementara itu, pengamat musik Felix Martua menilai kecenderungan lagu galau mudah populerbukanlah hal yang baru. Meski demikian, seiring berjrjalannya waktu dan dengan semakinbanyaknya lagu galau yang dirilis belakangan ini, Felix Martua juga melihat bahwa audiensmusik Indonesia cukup selektif dalam memilih lagu galau mana yang sebaiknya menaungiheadsdset mereka.
“Saya tidak setuju bila kita semua, terlebih industri musik Indonesia, langsung berasumsi bahwalagu galau memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan audiens musik Indonesia.Kenyataannya, meskipun jumlah lagu galau dengan tempo yang rendah sangat besar, banyakpula tipe lagu tersebut yang gagal di pasaran,” ujar Felix Martua.
Menurutnya, kegagalan tersebut seringkali terjrjadi karena sang musisi langsung beranggapanbahwa satu-satunya kunci kesuksesan sebuah lagu adalah elemen galau tersebut, padahalkenyataannya tidak.
“Pada akhirnya, dari pengamatan saya, audiens musik Indonesia tidaklah selugu itu. Audiensmusik Indonesia yang jeli bisa menilai karya mana yang lebih dari sekedar menjual perasaan,”tuturnya.
Dalam lima tahun terakhir mulai banyak penyanyi muda Indonesia yang meraih popularitaslewat lagu galau.
Sebut sajaja Bernadya yang langsung viral di album pertamanya. Beberapalagunya yang bertema patah hati menjadi populer, seperti lagu “Satu Bulan” dari EP pertama Bernadya yang bertajajuk ‘Terlintas’ (2023) dan lagu “Sialnya, Hidup Harus TeTetap Berjalan” darialbum panjang pertamanya yang bertajajuk sama.
Tak hanya penyanyi pendatang baru, lagu galau ciptaan musisi yang lebih dulu berkarya jugamenunjukkan bahwa tema galau memiliki daya tarik yang kuat di kalangan pendengar. Salahsatunya lagu “Masing-Masing” ciptaan Ade Govinda yang dibawakan bersama Ernie Zakri.
Felix Martua menilai, keberhasilan lagu tersebut tak lepas dari ketajajaman penulisan lagu yang otentiksekaligus resonan.
“Lagu ‘Masing-Masing’ menjadi populer bukan sekadar karena elemen kegalauannya,melainkan karena kemampuan Ade Govinda selaku penulis lagu dalam mengartikulasikantornado emosi yang terdiri dari amarah, duka, lelah, dan determinasi,” jelasnya.
Ia menuturkan bahwa penulis lagu yang piawai seperti Ade Govinda memiliki talenta untukmengartikulasikan betapa kompleksnya lapisan hati seorang manusia.
Hal ini terlihat dari lagu “Tanpa Batas Waktu” yang diciptakan Ade Govinda dan meledak pada 2020 hingga menjadi salah satu lagu yang paling banyak didengarkan masyarakat Indonesia.
Menurut Felix Martua, lagu tersebut justru berbeda dari kebanyakan lagu galau Indonesia padasaat itu. Perbedaan itulah, kata dia, yang justru melambungkan kesuksesan lagu “Tanpa Batas Waktu”.
“Ketika kebanyakan lagu galau berlomba-lomba mengoyak hati pendengarnya tanpamemberikan pesan yang sepenuhnya otentik, ‘Tanpa Batas Waktu’ justru hadir denganmenyuguhkan melankolia yang lebih manusiawi sekaligus membumi,” ucapnya.
Lebih lanjut Felix Martua mengatakan, lewat lagu “Tanpa Batas Waktu”, Ade Govinda inginmenuturkan bahwa kerinduan bukanlah pertanda sebuah kelemahan, melainkan perwrwujudantekad dan kesetiaan yang keras kepala.“Cinta yang menolak angkat kaki dan melangkah pergi, bahkan ketika harganya adalahkerinduan yang abadi.
Luar biasa, bukan? Banyak musisi yang bisa menciptakan lagu galau,akan tetapi, saya rasa hanya ada satu manusia di Tanah Air yang bisa menciptakan lagu ‘Tanpa Batas Waktu’,” terang Felix Martua.
Apa yang Membuat Lagu Galau Digemari?
Lagu galau terus menjadi salah satu warna yang konsisten hadir dalam musik Indonesia. Bagi musisi spesialis lagu galau,
Ade Govinda, daya tarik lagu galau sebenarnya bukan hanya padamusiknya yang sendu, tetapi juga pada kemampuan untuk menciptakan hubungan emosionaldengan pendengar.
“Menurutku orang Indonesia itu kalau sedang bahagia, dia tidak terlalu penting dengan lagu. Tapi ketika dia sedih, ketika dia galau, dia membutuhkan sarana untuk menyampaikankesedihan dan paling tepat adalah melalui lagu,” kata Ade Govinda.
Di karya terbarunya bersama Gloria Jessica atau GloJes berjrjudul “Terbelah Jadi Dua,” Ade Govinda pun menunjukkan keahliannya membuat lagu galau akut.
Sebagai musisi yang banyak menciptakan lagu galau, ia memahami betul bahwa suarapenyanyi memengaruhi keseluruhan suasana lagu.
Menurutnya, suara Glojojes memiliki warna yang sangat cocok dengan lagu terbarunya. Hal inilah yang membuat Ade Govinda merasa takbisa melepaskan peluang kolaborasi bersama jebolan “The Voice Indonesia” ini.
Membuat sebuah lagu galau pun tak bisa sekadar memikirkan musik dan lirik, tapi juga siapasosok yang cocok untuk menyanyikannya.
Bagi Ade Govinda, pemilihan penyanyi menjadi halpenting agar pesan dalam lagu galau ciptaannya dapat tersampaikan kepada pendengar.
“Faktor sangat penentu adalah lagu dan penyanyi. Nomor satu itu dulu. Bagaimana penyanyibisa membawakan seolah-olah dia yang sedang mengalami cerita yang ada di lagu tersebut,” katanya lagi.
Meski tren musik terus berubah, lagu galau akan selalu memiliki tempat tersendiri di hatipendengar Indonesia.
Pada akhirnya, popularitas lagu galau menunjukkan bahwa pendengartak hanya mencari musik yang enak didengar, tapi juga punya cerita. (Zee)







