Viral

Manusia Silver di Persimpangan Jalan, Bagaimana Mulanya?

ZETIZENS.ID – Kalau kamu bertanya-tanya kenapa ada manusia silver dan dari kapan mereka hadir di persimlanar jalan, mungkin saatnya mencari tahu. Simak ini yuk.

Manusia silver di jalanan bermula sebagai bentuk kreativitas anak jalanan untuk mencari penghasilan dengan mengecat tubuh menggunakan cat perak.

Fenomena ini marak akibat krisis ekonomi, terutama diperparah dampak pandemi COVID-19 yang memicu tingginya pengangguran, memaksa masyarakat beralih ke profesi ini sebagai jalan keluar bertahan hidup.

Menjadi manusia silver adalah alternatif mencari uang di jalanan karena sulitnya mencari pekerjaan konvensional.

Pandemi menyebabkan sepinya angkutan umum dan lapangan kerja, memicu peningkatan jumlah manusia silver di jalanan.

Awalnya, ini merupakan seni pertunjukan atau kreativitas anak jalanan untuk menarik perhatian pengguna jalan agar memberi uang.

Namun perlu diingat, penggunaan cat silver secara terus-menerus berbahaya bagi kesehatan, berisiko menyebabkan penyakit kulit, iritasi mata, dan gangguan pernapasan.

Fenomena ini sering dianggap meresahkan, terkadang melibatkan anak-anak, dan menimbulkan perdebatan mengenai eksploitasi serta penanganannya.

Penyebab

Laman Kompas membahas, Sosiolog Universitas Indonesia Daisy Indira Yasmine beranggapan bahwa fenomena ini bisa disebabkan oleh dua hal.

Pertama, kota semakin krisis ruang publik. Ruang-ruang sosial yang dapat mempertemukan warga dari segala kelas sosial sangat langka.

“Manusia silver sendiri sebenarnya bagian dari seni street performance (pertunjukan jalanan). Biasanya, street performace dilakukan di area-area publik di kota. Street performance sebenarnya juga bagian dari seni kota,” ungkap Daisy kepada Kompas.com pada Jumat (8/10/2021).

“Sebagai bentuk seni, sebenarnya manusia silver tidak perlu dilarang dan ditertibkan,” tambahnya.

Jika ini menjadi akar masalahnya, maka pemerintah kota didesak untuk merancang pembangunan dengan memikirkan ketersediaan ruang-ruang publik.

Ruang-ruang publik ini harus inklusif, terbuka, dan dapat diakses semua warga.

Akar masalah kedua yakni kemiskinan struktural. Seni ini menjadi alternatif bagi kalangan yang aksesnya terbatas pada lapangan kerja, khususnya kaum muda yang terimpit atau terasing secara struktur.

Mereka kesulitan mengakses pekerjaan karena sedari awal juga sudah miskin akses terhadap, misalnya, pendidikan formal.

“Manusia silver ini bukan sekadar seni tetapi menjadi alternatif lapangan kerja bagi sebagian warga kota, terutama mereka yang memiliki akses terbatas pada lapangan kerja lain,” kata Daisy.

Bahaya Cat

Pernah dong membayangkan, apakah cat yang digunakan oleh manusia silver aman untuk kulit? Jawabannya tentu tidak dan sangat tidak direkomendasikan untuk penggunaan jangka panjang atau seluruh tubuh.

Cat yang umumnya digunakan bukanlah body painting (cat khusus kulit), melainkan campuran cat sablon, cat pilox/semprot, yang diencerkan dengan minyak tanah atau bensin.

Cat industri membuat kulit kering, terasa ditarik, kaku, dan perih seperti terbakar.

Penggunaan berulang menyebabkan iritasi parah, dermatitis, gatal-gatal, kulit kemerahan, hingga kulit melepuh.

Cat silver sering mengandung bahan berbahaya seperti timbal, merkuri, kromium, dan kadmium. Bahan-bahan ini dapat terserap ke dalam kulit.

Akumulasi logam berat di kulit dan tubuh dapat merusak sistem saraf, ginjal, hati, serta berpotensi menyebabkan kanker (karsinogenik).

Bahaya fisik lainnya, bau menyengat dari campuran cat dan minyak tanah dapat menyebabkan pusing, infeksi saluran pernapasan, serta risiko iritasi jika mengenai mata atau tertelan.

Jika terpaksa menggunakannya, cara pembersihan yang paling aman bukan dengan sabun biasa, melainkan menggunakan bahan dasar minyak seperti baby oil, minyak kelapa, atau olive oil untuk mengurangi gesekan dan iritasi pada kulit. (Zee)

Tulisan Terkait

Back to top button
zetizens.id