Khazanah

Sejak Kapan Ada Amplop THR saat Lebaran?

ZETIZENS.ID – Gimana Lebarannya Zet? Masih dapat amplop THR gak? Btw, sejak kapan sik amplop THR ini jadi hal lumrah dan dinormalisasi di tradisi kita?

Tradisi berbagi uang THR alias tunjangan Hari Raya dalam amplop—yang sering disebut sebagai “angpao Lebaran” atau “salam tempel” mulai populer dan berkembang pesat sejak tahun 1950-an hingga 1960-an.

Konon konsep pemberian uang THR bermula pada awal 1950-an, yang awalnya digagas sebagai “persekot” atau uang muka bagi pegawai negeri (PNS) agar mereka bisa memenuhi kebutuhan Lebaran.

Pada 1951, kabinet Perdana Menteri Soekiman Wirjosandjojo memberikan tunjangan menjelang Idul Fitri kepada pegawai negeri untuk membantu kebutuhan perayaan Lebaran.

Kebijakan ini memicu protes dari kalangan buruh swasta yang menuntut perlakuan serupa. Tekanan datang dari organisasi buruh seperti Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia.

Menanggapi tuntutan tersebut, pada 1954 pemerintah mulai mendorong perusahaan memberikan “Hadiah Lebaran” kepada pekerja.

Kebijakan itu kemudian berkembang dan pada akhirnya menjadi kewajiban bagi perusahaan untuk memberikan tunjangan hari raya kepada pekerja, yang hingga kini dikenal luas sebagai THR.

Seiring waktu, konsep uang THR ini bergeser dari sekadar bonus pekerja menjadi tradisi berbagi uang kepada anak-anak atau saudara yang lebih muda, yang semakin melekat di masyarakat sejak tahun 1960-an.

Penggunaan amplop dalam berbagi uang di momen Lebaran merupakan bentuk perpaduan budaya, yang dipengaruhi oleh tradisi angpao Tionghoa (menggunakan amplop merah) dan tradisi berbagi sedekah atau uang “salam tempel” dalam masyarakat Muslim.

Tradisi ini semakin meriah dengan kebiasaan menukarkan uang kertas baru untuk dimasukkan ke dalam amplop yang menarik.

Jadi, meskipun THR secara formal sudah ada sejak 1951, tradisi membagikannya dalam amplop (angpao Lebaran) mulai populer secara luas beberapa tahun setelahnya.

Tradisi

Laman CNBC Indonesia membahas, THR sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri di Indonesia.

Selain sebagai tunjangan bagi pekerja, di tingkat masyarakat THR berkembang menjadi tradisi berbagi uang kepada keluarga, terutama anak-anak. Banyak keluarga menganggap apresiasi kecil ini dapat memotivasi anak-anak untuk semangat beribadah selama bulan ramadan seperti puasa, membaca Al-Quran, dan shalat tarawih.

Selain identik dengan pemberian uang kepada keluarga dan kerabat, tradisi ini juga lekat dengan kebiasaan menukarkan uang lama menjadi uang baru sebelum dibagikan dalam amplop Lebaran.

Seiring perkembangan teknologi, cara masyarakat membagikan THR kini mulai mengalami perubahan, termasuk melalui transfer digital dan dompet elektronik.

Tradisi memberi uang saat Idul Fitri diyakini berasal dari praktik serupa di Timur Tengah yang kemudian diadopsi masyarakat Indonesia dan mengalami akulturasi dengan budaya lokal.

Beberapa catatan sejarah Kerajaan Mataram Islam menunjukkan bahwa budaya ini sudah terjadi pada abad ke-16 hingga ke-18. Para raja dan bangsawan biasa memberikan uang baru kepada anak-anak para pengikutnya saat Idul Fitri sebagai bentuk rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa. Itu yang dibahas laman UNAIR News.

Pemberian uang baru juga memiliki makna simbolis, yakni melambangkan kesucian, kebersihan, serta ungkapan rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.

Digital

Seiring perkembangan teknologi keuangan, cara masyarakat membagikan THR kini mulai berubah.

Jika sebelumnya uang baru dalam amplop menjadi simbol utama Lebaran, kini sebagian orang mulai memberikan THR melalui transfer bank atau dompet digital. Bahkan, banyak anak muda yang secara bercanda menawarkan kode QR rekening mereka untuk dipindai oleh orang tua atau kerabat saat momen silaturahmi Lebaran. (Zee)

Tulisan Terkait

Back to top button
zetizens.id