Dua Kali Drop Out, Kini Juara Pemuda Pelopor Kota Serang 2026: Muhammad Ribkhi Aprilaganta Buktikan Perubahan Tak Lahir dari Bangku Kelas Saja

ZETIZENS.ID – Dua kali drop out saat SMA. Namun hari ini, nama Muhammad Ribkhi Aprilaganta justru tercatat sebagai Juara Pemuda Pelopor Kota Serang 2026 Bidang Sumber Daya Alam, Lingkungan, dan Pariwisata dalam ajang yang diselenggarakan oleh Disparpora Kota Serang.
Perjalanan Ribkhi bukan cerita tentang siswa teladan yang mulus tanpa hambatan. Ia pernah menempuh pendidikan beasiswa di Lampung, namun perjalanannya tidak berlanjut hingga selesai. Fase tersebut menjadi bagian dari proses hidup yang membentuk ketangguhan dan arah barunya.
Kembali ke Serang, ia mencoba melanjutkan pendidikan. Namun ia kembali dihadapkan pada situasi di mana aktivitas sosial dan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang ia jalankan kerap berbenturan dengan sistem sekolah. Untuk kedua kalinya, ia memilih keluar dari pendidikan formal.
Alih alih runtuh, ia memilih arah berbeda.
“Kalau ruang belajar dibatasi dinding kelas, saya memilih belajar di lapangan. Kalau sistem tidak memberi ruang kontribusi, saya membangun ruang itu sendiri,” ungkapnya.
Keputusan itu menjadi titik balik. Ribkhi fokus membangun gerakan berbasis community development. Ia tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi mengorganisirnya.
Ia menginisiasi Banten Take Action, gerakan pemberdayaan masyarakat dan promosi potensi wisata lokal dengan pesan sederhana namun tegas: anak muda harus ambil peran.
Ia membentuk Kompas Action, koalisi lintas profesi dan lintas generasi yang berhasil menghimpun lebih dari 60 NGO dan komunitas dalam satu kesepakatan petisi bebas sampah di Banten.
Melalui Serang Night Ride, ia mengemas kampanye transportasi ramah lingkungan dalam format yang inklusif dan membumi, memperjuangkan hak pesepeda serta mendorong budaya mobilitas rendah emisi.
Lewat Banten Waste Solution / Noesantara Waste Solution, ia mengembangkan konsep pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir secara sistematis dan berkelanjutan.
Dan melalui Rangers For Clean, ia menggerakkan kampanye lingkungan berbasis tren edukatif kekinian, melahirkan agen perubahan muda dengan semangat “Dari Banten untuk Indonesia”.
Semua rekam jejak itu diuji dalam tiga tahap seleksi Pemuda Pelopor: Administrasi, Interview, hingga Fact Finding lapangan. Pada tahap terakhir, dampak konkret yang telah ia bangun menjadi bukti bahwa kepeloporan bukan sekadar gagasan, melainkan eksekusi.
Kemenangan ini menjadi pesan kuat: sistem mungkin bisa membatasi seseorang di satu fase, tetapi tidak bisa menghentikan seseorang yang memilih bertumbuh.
“Drop out bukan akhir. Itu hanya perubahan jalur. Yang menentukan bukan di mana kita belajar, tetapi apa yang kita lakukan setelah mempelajari nya” tegas Ribkhi.
Kini, namanya tidak lagi dikenal sebagai siswa yang keluar dari sekolah dua kali. Ia dikenal sebagai pemuda yang membangun lima gerakan dan memenangkan ajang kepeloporan tingkat kota.
Kisah ini menjadi refleksi bagi generasi muda Banten: pendidikan itu penting, tetapi dampak nyata jauh lebih menentukan. Muhammad Ribkhi Aprilaganta membuktikan satu hal, sukses bukan soal seberapa lama duduk di kelas, tetapi seberapa besar kontribusi yang kita berikan ketika berdiri di tengah masyarakat. (Zee)






