Oemji Harga Plastik Naik, Kabar Baik atau Buruk?

ZETIZENS.ID – Harga plastik di Indonesia melonjak drastis hingga 40%–100% per April 2026. Ini dipicu lonjakan harga bahan baku nafta akibat gangguan rantai pasok global dan konflik geopolitik di Timur Tengah.
Kenaikan ini menekan UMKM dan sektor ritel, bahkan memaksa sebagian pelaku usaha mengurangi porsi produk, sementara harga kemasan makanan/minuman berpotensi naik.
Lonjakan harga terlihat pada plastik kresek naik dari Rp10.000 menjadi Rp15.000 per pak, plastik jumbo naik 100% menjadi Rp50.000, dan plastik anti panas naik signifikan menjadi Rp65.000 per kilogram.
Kenaikan harga bahan baku plastik (nafta) sebesar 25-100% yang didorong oleh tingginya harga minyak dunia dan ketegangan di Selat Hormuz, mengganggu pasokan impor.
Dampak dari kenaikan ini, biiaya operasional pedagang kecil meningkat drastis, memaksa penyesuaian strategi seperti mengurangi ukuran produk atau menaikkan harga jual untuk menjaga margin keuntungan.
Meskipun harga plastik naik, produsen otomotif di Indonesia masih berupaya menjaga harga kendaraan tetap stabil melalui mitigasi internal.
Langkah antisipasi oleh pelaku usaha saat ini adalah melakukan efisiensi kemasan dan penyesuaian porsi produk agar tetap bisa bertahan.
Bervariasi
Laman IDN Times membahas, Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Reynaldi Sarijowan, mengatakan lonjakan harga bervariasi, mulai dari Rp500 hingga Rp700 per pekan.
Ia menyebut hampir seluruh jenis plastik berbahan PE dan PP mengalami kenaikan signifikan.
PE atau polyethylene adalah plastik yang sangat fleksibel dan ringan, dan biasanya dipakai untuk kantong plastik, botol, kemasan makanan.
Sementara itu, PP atau polypropylene lebih kuat dan tahan panas dibanding PE, umumnya digunakan untuk wadah makanan (microwave-safe), tutup botol, peralatan rumah tangga, hingga karung plastik.
“Setiap pekannya, sejak pekan kedua puasa itu bervariasi, ada yang 500 perak, ada yang 700 perak, dan melihat situasi hari ini, memang hampir seluruh jenis plastik yang PE dan PP ini mengalami lonjakan mencapai 50%, bahkan ada yang 100%,” kata Reynaldi kepada IDN Times, Senin (6/4/2026).
Harga plastik kresek naik dari Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu per pak, sementara jenis lain meningkat dari Rp20 ribu menjadi Rp25 ribu per pak.
Reynaldi menilai kenaikan dipicu ketergantungan industri dalam negeri terhadap bahan baku impor. Ia meminta pemerintah segera mencari sumber pasokan baru di luar Timur Tengah untuk menekan dampak lanjutan ke berbagai sektor.
“Perlu mengganti pasokan di luar dari Timur Tengah, pasokan-pasokan importasinya, karena kita masih ketergantungan impor bahan baku plastik. Tentu ini akan berpengaruh sekali, dan bahkan bisa multiplier effect-nya luar biasa, tidak hanya terjadi di komunitas pangan saja, kosmetik, otomotif ini juga akan berpengaruh,” kata dia.
Di sisi lain, IKAPPI melihat kondisi ini sebagai momentum untuk mengurangi penggunaan plastik di pasar tradisional dan mendorong penggunaan tas belanja alternatif.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan kenaikan harga plastik dipicu konflik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan nafta, salah satu bahan baku utama plastik.
Ia mengakui bahwa memang banyak keluhan masyarakat mengenai harga plastik naik beberapa hari terakhir. Menurutnya, hal ini adalah dampak dari perang Iran-AS, karena salah satu bahan baku plastik, nafta, diimpor dari Timur Tengah.
“Pemerintah saat ini mencari alternatif impor nafta dari kawasan lain seperti Afrika, India, dan Amerika untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan Timur Tengah,” ujarnya. (Zee)







