Kuliner

Roti Gulacir, Usaha Keluarga yang Bertahan Lintas Generasi Selama Hampir 80 Tahun

ZETIZENS.ID Roti Gulacir merupakan salah satu kuliner tradisional yang telah bertahan hampir delapan dekade. Usaha ini kini dikelola oleh Lulu, generasi ketiga penerus keluarga, yang melanjutkan resep dan proses pembuatan roti yang diwariskan sejak hampir 80 tahun lalu. Menurut Lulu, Roti Gulacir bukan sekadar produk jualan, melainkan bagian dari sejarah dan identitas kuliner lokal yang harus terus dijaga.

“Roti Gulacir ini sudah hampir 80 tahun yang lalu dimulai. Saya sekarang generasi ketiga. Ini memang diturunkan dari orang tua, karena ini makanan khas yang ada di sini dan harus tetap diperbaiki serta dijaga,” ujar Lulu. Pada masa awal kemunculannya, Roti Gulacir bahkan belum sepenuhnya ditujukan untuk diperjualbelikan. Lulu menjelaskan, dulu roti ini sering digunakan sebagai alat barter antarwarga.

“Dulu itu buat barteran, penjual tuker-tuker barang, misalnya dengan beras. Jadi awalnya bukan buat jualan, tapi karena kondisi ekonomi waktu itu,” tuturnya. Seiring waktu, keluarga Lulu mulai melakukan inovasi agar Roti Gulacir bisa bertahan dan dikenal lebih luas. Produksi dilakukan secara rumahan dan dipasarkan secara sederhana, mulai dari lingkungan sekitar hingga pasar. “Saya pasarin di pasar warian sama di rumah aja,” katanya.

Dalam satu kali proses produksi, Roti Gulacir dibuat sekitar 200 buah. Jumlah tersebut memang belum besar, namun Lulu tetap bersyukur. “Sedikit sebenarnya, cuma ya Alhamdulillah. Harapannya semoga makin banyak yang tahu, roti-roti ini makin dikenal dan terus ada,” ucapnya.

Roti Gulacir dibuat dari bahan sederhana, yakni tepung terigu dan gula yang dicairkan sehingga menghasilkan tekstur khas tanpa gumpalan. Proses pembuatannya pun membutuhkan kesabaran. Adonan harus dipersiapkan selama satu hari penuh sebelum dipanggang.

“Kalau masaknya sebentar, setelah masuk oven itu paling lima menit sudah beres. Tapi yang lama itu di adonannya, persiapannya,” jelas Lulu. Meski diproduksi dengan cara tradisional, Lulu berharap Roti Gulacir tetap bisa bertahan di tengah gempuran makanan modern. Ia ingin warisan kuliner ini terus hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya. “Semoga Roti Gulacir terus berkarya dan tetap ada,” tutupnya.

(Sarah)

Tulisan Terkait

Back to top button
zetizens.id