JOMO jadi Tandingan FOMO, Apa Tuh?

ZETIZENS.ID – Setelah sekian lama FOMO dikenal banyak orang, kini muncul JOMO. Kalau FOMO adalah fear of missing out maka JOMO adalah joy of missing out. Cari tahu yuk.
Stephanus Aranditio menulis dalam laman Kompas, JOMO bukan sekadar rasa senang karena tidak mengikuti tren, melainkan sebuah bentuk kesadaran dan otonomi diri dalam menghadapi arus informasi digital.
Di era digital yang serba cepat dan penuh distraksi, kehidupan manusia semakin sulit dipisahkan dari gawai dan media sosial.
Ketergantungan ini melahirkan kecemasan baru yang dikenal sebagai fear of missing out (FOMO), yakni rasa takut tertinggal dari informasi, tren, atau pengalaman yang dialami orang lain.
Dari situ pula lahir konsep tandingan, yakni joy of missing out (JOMO) yang berarti ”seni” menahan diri dari setiap tren yang muncul agar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
JOMO bukan sekadar rasa senang karena tidak mengikuti tren, melainkan juga sebuah bentuk kesadaran dan otonomi diri dalam menghadapi arus informasi digital.
”JOMO itu adalah sebuah konsep di mana orang itu merasa tidak cemas ketika mereka melewatkan sesuatu yang dialami oleh orang lain. Namun, ini juga bukan cuma sekadar merasa senang atau tenang, melainkan merasa memiliki otonomi atas diri kita sendiri,” kata Annisa Utami Seminar, dosen dari Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), IPB University, dikutip Sabtu (17/1/2026).
Konsep JOMO sendiri sebenarnya bukan hal baru. JOMO mulai muncul sejak 2011 dan menjadi pembicaraan luas sekitar 2015 sebagai reaksi atas semakin masifnya FOMO.
Seiring internet menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, banyak individu mengalami tekanan psikologis karena merasa harus selalu terkoneksi. Dari sinilah muncul kebutuhan untuk menata ulang hubungan manusia dengan dunia digital.
Menurut Anissa, FOMO berkaitan erat dengan emosi negatif, seperti kecemasan, rasa terasing, dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Kondisi ini diperparah oleh lemahnya determinasi diri. Sebab, individu merasa wajib terus mengikuti apa yang sedang tren.
”Emosi-emosi yang muncul dari FOMO itu adalah kecemasan, merasa tidak terkoneksi dengan orang lain, merasa sendiri, dan terus-terusan membandingkan diri dengan pengalaman orang lain,” tuturnya.
Sebaliknya, JOMO justru menghadirkan emosi positif. JOMO mendorong individu untuk memilih dengan sadar informasi apa yang perlu dikonsumsi dan mana yang bisa dilepaskan.
”Kalau JOMO itu emosinya lebih positif, emosi merasa merdeka. Di mana mereka merasa, ’oh, cukup hal ini yang aku ketahui, yang ini enggak usah aku dalami lebih jauh’,” ujar Anissa.
Menariknya, FOMO dan JOMO tidak selalu saling meniadakan. Keduanya dapat hadir secara bersamaan dalam diri seseorang.
Seseorang bisa saja merasa penasaran terhadap hal baru (FOMO). Namun, setelah memahami batasannya, memilih untuk tidak terlalu terikat (JOMO).
”FOMO dan JOMO ini bukan sesuatu yang saling bertolak belakang, melainkan dua kondisi yang bisa berjalan secara simultan dan bisa kita seimbangkan,” kata Anissa.
Dalam konteks ilmu komunikasi, JOMO kerap disalahartikan sebagai penarikan diri dari lingkungan sosial. Padahal, JOMO tidak memutus relasi sosial, tetapi membantu individu menyeimbangkan hubungan digital dan hubungan nyata.
Hal ini justru menjadi refleksi dan perlindungan diri untuk bertanya kembali apa yang bermakna bagi diri kita.
Praktik JOMO juga sejalan dengan gerakan digital wellbeing (kesejahteraan digital), seperti detoksifikasi dari media sosial, pembatasan konsumsi berita, dan pengelolaan screen time (waktu menatap layar). Tujuannya adalah agar individu tidak terus-menerus tenggelam dalam dunia digital tanpa kesadaran.
”Kita harus merdeka, kita harus bisa memberdayakan diri kita sendiri walaupun dalam dunia yang serba dinamis, serba cepat, dan serba informasi,” ujarnya.
JOMO dan FOMO adalah dua kondisi yang dapat digunakan secara sadar dan fleksibel. Dengan keseimbangan tersebut, manusia tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga subyek yang berdaulat atas perhatian, waktu, dan kesejahteraan dirinya sendiri.
Bagaimana menurut kamu tentang JOMO? (Zee)







