Pelangi di Mars, Film Fiksi Ilmiah yang Tayang Lebaran 2026

ZETIZENS.ID – Lebaran 2026 ini bakal ada film berjudul Pelangi di Mars yang tayang di bioskop. Penasaran seperti apa alurnya? Simak yuk.
Laman Good News from Indonesia membahas, film fiksi ilmiah anak ini berlatarkan di masa depan tepatnya tahun 2100.
Film dibalut narasi persahabatan manusia dan robot serta isu lingkungan dengan tampilan sinematografi animasi yang modern ini disutradarai oleh Upie Guava.
Film Pelangi di Mars mengisahkan tentang sosok anak bernama Pelangi yang lahir di tahun 2100-an.
Ia merupakan anak Indonesia pertama yang lahir di Planet Mars. Ia tinggal di sana bersama sang ibu dan para robot, sementara ayahnya berada di bumi.
Pelangi memiliki mimpi untuk kembali ke bumi agar bisa melihat pohon, laut, dan tentunya bersatu kembali dengan sang ayah.
Untuk mewujudkan mimpi itu, Pelangi perlu menyelesaikan misinya yakni menemukan mineral bernama Zeolit Omega dan menuntaskan masalah krisis air di Bumi.
Benda itu merupakan tiket pulangnya ke bumi dan cara untuk menyelamatkan planet tersebut.
Meski begitu, perjalanan misi Pelangi tidak berjalan mulus. Tidak hanya karena tidak mengetahui bagaimana bentuk benda yang ia cari, ia pun dihadapkan dengan manusia lain yang juga menginginkan Zeolit Omega untuk tujuan lain.
Di satu sisi, kepercayaan Pelangi pada kawan-kawan robotnya pun perlahan luntur karena kebohongan yang dilakukan Batik.
Pemeran
Film Pelangi di Mars disutradarai oleh Upie Guava dan dimainkan oleh sederet aktor dan aktris berbakat di antaranya:
Pelangi diperankan oleh Messi Gusti
Pratiwi (Ibu Pelangi) diperankan oleh Lutesha
Banyu diperankan oleh Rio Dewanto
Mirna diperankan oleh Livy Renata
Pelangi Kecil diperankan oleh Myesha Lin Adeeva
Robot Batik (asal Indonesia) diisi suaranya oleh Bimo Kusumo
Robot Yoman (asal Eropa) diisi suaranya oleh Kristo Immanuel
Robot Petya diisi suaranya oleh Gilang Dirga
Robot Kimchi (asal Korea Selatan) diisi suaranya oleh Vanya Rivani
Robot Sulil (asal India) diisi suaranya oleh Dimitri Arditya
Extended Reality
Laman Hypeabis membahas, dijadwalkan tayang saat Lebaran, film ini dikembangkan dengan teknologi Extended Reality (XR). Pelangi di Mars menghadirkan lanskap Mars yang dibangun melalui perpaduan animasi 3D dan produksi virtual di Studio DossGuavaXR.
Di balik kemasan petualangan fiksi ilmiah, film ini juga menyoroti isu krisis air bersih dan kerusakan lingkungan. Cerita bermula dari kondisi Bumi yang mengalami kelangkaan air akibat eksploitasi dan perubahan iklim.
Pelangi dan ibunya, Pratiwi, dikirim ke Planet Mars untuk mencari mineral bernama Zeolith Omega yang diyakini dapat menjadi solusi krisis air. Namun, keduanya justru terdampar di planet tersebut, situasi yang menguji hubungan personal mereka sebagai ibu dan anak.
Upie Guava mengungkapkan bahwa film ini berbeda dari banyak film anak yang menjadikan sosok dewasa sebagai pusat solusi. Pelangi di Mars, paparnya, ingin menempatkan anak sebagai subjek yang aktif sekaligus menghadirkan tontonan alternatif bagi keluarga.
“Premis utama dari film ini bukan hanya mengikuti keadaan, melainkan mengambil keputusan, memimpin, dan belajar menghadapi persoalan,” katanya dalam taklimat resmi.
Isu krisis air dihadirkan sebagai konteks yang relevan dengan realitas hari ini. Upie mengaku percaya bahwa perubahan iklim adalah persoalan nyata yang perlu disikapi bersama, namun ia tidak ingin menyampaikan kegelisahan itu secara menggurui.
Tokoh Pelangi digambarkan tumbuh dalam situasi yang tidak ideal, tetapi tetap memiliki keberanian dan rasa ingin tahu. Ia tidak sekadar mendampingi sang ibu, melainkan terlibat langsung dalam pencarian solusi.
“Anak-anak tidak suka digurui,” ujarnya. Karena itu, pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan diselipkan melalui petualangan, konflik, dan dinamika emosional para tokohnya.
Selaras, produser Dendi Reynando menyebut gagasan film ini lahir dari keinginan menghadirkan tontonan keluarga yang relevan dengan isu global. Menurutnya, film anak dan keluarga di Indonesia masih terbatas jumlahnya.
“Kami ingin memberi alternatif, agar anak-anak Indonesia punya cerita mereka sendiri yang dekat dengan masa depan mereka,” ujarnya.
Dendi menambahkan bahwa penggunaan teknologi XR bukan semata untuk memamerkan kecanggihan visual. Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk membangun pengalaman imersif yang memperkuat pesan cerita di tengah isu krisis lingkungan di Bumi.
Kristo Immanuel, pengisi suara robot Yoman, juga menyampaikan apresiasinya terhadap keseriusan produksi film ini. Menurutnya, anak-anak Indonesia layak mendapatkan tontonan dengan kualitas yang digarap sungguh-sungguh.
“Film ini juga mengajak anak-anak membayangkan diri mereka sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar penonton perubahan,” katanya.
Gasabar menunggu film ini ya Zet. Penasaran. (Zee)







