Gen Z

Aming Ajen, Dalang Gen Z yang Berinovasi

Kenalkan Kisah Babad Banten dan Wastra Khas Banten lewat Pewayangan

ZETIZENS.ID – Penuh semangat dan optimisme. Inilah Aming Ajen, dalang Gen Z asal Pandeglang yang konsisten melestarikan seni tradisi wayang dengan menjadi dalang, bahkan sejak usianya yang masih belia yakni empat tahun.

Zetizens ketemu Aming di toko Balada Batik Banten di seberang Terminal Pakupatan, Kota Serang. Kebetulan Aming sedang singgah di situ dan bersiap pergi ke Bekasi untuk memenuhi panggilan menjadi dalang di sebuah pertunjukan.

Kelahiran 2005 dengan nama lengkap Muhamad Armin ini, lulusan SMKN 1 Pandeglang Jurusan Seni Pertunjukan. Amin yang lulus tahun 2024, sengaja gap year 2 tahun lanjut ke ISBI Bandung pada tahun ajaran kali ini.

Aming bilang, alasannya gap year, sengaja nunggu momen. Tapi tahun ini Aming resmi tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Seni Pertunjukan Karawitan di ISBI untuk mendukung hobi dan profesinya di bidang pedalangan.

“Suka ngedalang dari usia 4 tahun karena almarhum bapak juga dalang. Aming sering lihat bapak mainin wayang terus,” tutur bungsu lima bersaudara yakni 3 cowok dan 3 cewek ini.

Karena ketertarikannya kepada wayang yang begitu besar, Aming mengaku, sari kecil ga punya mainan kayak mobil remot dan robot-robotan layaknya anak kecil cowok lain.

“Ga ada yang maksa, ini kemauan sendiri. Kebisaan ngedalang ini didapat otodidak dan belajar secara ga langsung karena melihat orangtua main wayang terus pentas,” kata Aming lagi.

Asal-usul Ajen

Di balik nama Ajen, ada cerita tersendiri. Pada 2009, guru Aming yang sekarang yakni Ki Dalang Wawan Ajen pentas di Alun-alun Pandeglang. Nah, berawalnya nama Aming Ajen dari situ.

“Jadi, Ajen itu gelar dari guru Aming. Ga lama dari situ, Aming berangkat ke Bekasi ke sanggar Ki Wawan Ajen itu. Aming belajar dari usia 4 tahun sampai sekarang,” kata Gen Z yang menimba ilmu di SD di Batubantar dan SMP juga dekat rumahnya ini.

Akhirnya disematkanlah nama Ajen di belakang nama Aming. Di dunia perdalangan kata Aming, lazim menyematkan nama guru di belakang nama sang dalang yang menjadi murid. Maka jadilah, Aming Ajen.

Meski mengawali ini sejak usia 4 tahun, pertunjukan pertama Aming adalah saat usia 7 tahun, saat masih SD. Dan Aming masih konsisten ngedalang sampai sekarang.

Melestarikan Seni dan Babad Banten

Menurut Aming, di zaman sekarang banyak generasi muda yang minim banget berminat ke seni khususnya wayang golek. “Makanya kalau ga Aming, mau siapa?” kata Aming mantap.

Saat mentas, Aming membawakan cerita Mahabarata dan Ramayana. Namun sekarang, Aming sudah ada pembaharuan dengan membawakan kisah-kisah Babad Banten.

Aming lagi ngulik-ngulik kisah Babad Banten karena untuk warga Banten pun kata Aming, masih banyak yang belum tahu kisahnya dan masih awam banget.

“Selama ini pewayangan di tanah Pasundan pun memakai kisah Ramayana dan Mahabharata kayak perang Bharata Yuda gitu-gitu,” tuturnya.

Setiap dalang menyampaikan kisah yang sama yakni Mahabharata atau Ramayana. Tentang memakai kisah Babad Banten yang masih asing di kalangan banyak orang, Aming mengakui ada kekhawatiran tidak mendapatkan respon sesuai perkiraan.

Namun Aming bersiteguh dengan tujuannya yakni mengenalkan pada masyarakat umum tentang Babas Banten.

“Jadi Aming yakin aja dulu. Urusan diterima atau nggaknya, urusan audiens tapi untuk selama tiga tahun ini audiens menerima,” lanjut Aming.

Sebagai dalang Gen Z, Aming punya pendekatan tersendiri misal dengan konsep penataan panggung yang disesuaikan dengan kondisi sekarang. Aming menggunakan lighting, artistik dan secara kemasan pertunjukan yang lebih modern.

“Aming ga bisa terus-terusan di pakem jaman dulu. Kalau ga berkolaborasi dengan gaya modern, anak muda ga akan tertarik. Jokes-jokesnya juga disisipin dengan gaya anak-anak sekarang,” jelasnya.

Golek

Dari berbagai jenis wayang yang ada di Indonesia, Aming memilih wayang golek. Alasannya karena lebih komplek. Jadi secara keseluruhan, wayang golek ini kata Aming mencakup berbagai seni seperti seni ukir, seni rupa, seni tata busana, dan lainnya.

Dari kecil sampai sekarang, Aming sudah banyak memiliki koleksi wayang. Ada sekitar 30 lebih.

Wayang-wayang ini biasanya dibawa semua saat pentas. Karena dalam pertunjukan kata Aming, ada wayang yang dipakai untuk menghidupkan cerita dan ada yang tidak. Nah, untuk wayang yang tidak berperan, biasanya hanya didisplay untuk penambah artistik.

Saat pentas, Aming bilang, tidak sendiri. Ada nayaga yang mengiringi Aming, ada juga pemusik

Sementara untuk kostum wayang, ada beberapa wayang yang kostumnya hasil rancangan Aming.

“Karena mau siapa lagi yang mengenalkan ciri khas ciri khas Banten kalau bukan kita? Tapi kan keren si Cepot pake pangsi hideng, pake batik Baduy warna biru? Ini jadi identitas. Belum banyak yang pakai,” kata Aming lagi.

Sebagai Gen Z yang kreatif, bukan hanya inovasi pada kostum melainkan juga pada wajah wayang. Aming pernah bikin sketsa wajah wayang lalu diberikan kepada pengrajin seni ukir wayang untuk dibuatkan sebagai karakter tambahan.

Ini juga yang memunculkan ide untuk membuat karakter khusus bagi tokoh-tokoh cerita Babas Banten.

“Kalau ada rejekinya, mau bikin wayang khusus Babad Banten. Untuk sekarang masih pinjem karakter wayang golek yang ada. Tokoh-tokoh di Babad Banten salah satunya ada Sultan Hasanuddin,” kata Aming.

Menjalani hobi sebagai profesi, Aming mengaku, ga ada ketakutan atau kekhawatiran kalau tidak ada yang tertarik memakai jasanya karena peminatnya tidak sebanyak seni lainnya.

“Aming yakin aja karena di Jawa Barat masih banyak penggemar, di Banten masih banyak juga. Walaupun misalnya sudah jarang yang manggil, Aming harus tetap eksis. Bisa melalui sosial media, bisa tayangkan live streaming di YouTube. Gimanapun caranya, kita harus melestarikan melalui perangkat digital,” ungkapnya.

Pementasan terdekat Aming adalah di Subang, Jawa barat. Untuk schedule satu ini, kisah yang dibawakan sdah ada yang request yakni Jaya Perbangsa. Ini menceritakan perjuangan Gatot Kaca melawan Kurawa.

Kolaborasi

Saat manggung, Aming tidak selalu sendiri. Sesekali ia mentas bersama dalang lain. Misalnya waktu Saba Baduy tahun lalu, Aming ikut pentas bareng 3 dalang lain secara berbarengan. Dan Aming paling muda di antara mereka.

“Kalau ngedalang bareng seperti ini, misalnya di adegan pertama ada 4 tokoh, jadi pembagian perannya satu dalang memainkan satu tokoh. Jadi satu lakon berempat, dibagi perannya masing masing,” kata Aming.

Format tampil bareng ini bukan pertama kali bagi Aming, tapi sudah pernah dilakoni bahkan bersama wayang kulit pun sudah pernah.

“Ngedalang bareng seperti ini lebih enak, arena rame. Dalang-dalang senior ini mengayomi yang lebih muda,” jelas Aming.

Saat ini, selain manggung sana-sini, Aming juga membuka kelas wayang loh untuk anak-anak.

“Supaya bisa mencetak Aming Aming lainnya,” pungkas Aming.

Oke Aming. Semangat terus yaaa. Semangat melestarikan warisan tradisi seni juga menjadi mahasiswa. (Hilal)

Hilal Ahmad

Gen Z Enthusiast yang suka menulis apa pun dan bertualang ke mana pun!

Tulisan Terkait

zetizens.id