Qunutan dan Kupatan di Pertengahan Ramadan, Tradisi Khas Indonesia di Bulan Puasa

ZETIZENS.ID – Ada yang khas banget nih setiap kali pertengahan bulan Ramadan di Indonesia. Yap. Namanya Qunutan atau kupatan alias ngupat.
Tradisi kupatan atau dikenal juga sebagai Qunutan merupakan tradisi masyarakat Jawa/Indonesia yang dilakukan pada pertengahan Ramadhan (hari ke-15) sebagai wujud rasa syukur atas kelancaran ibadah puasa separuh bulan.
Tradisi ini melibatkan pembuatan ketupat, pembacaan doa qunut saat tarawih, serta sedekah makanan, simbol dari ngaku lepat (mengakui kesalahan).
Tradisi Qunutan umumnya dilaksanakan pada malam ke-15 atau hari ke-15 bulan Ramadhan, sering disebut sebagai malam “Qunutan”.
Tradisi ini memiliki makna mengakui kesalahan, menandakan momen untuk saling memaafkan.
Janur atau anyaman daun kelapa muda melambangkan kompleksitas kesalahan manusia, sementara isinya melambangkan kesucian.
Ini sebagai bentuk syukur karena telah melewati separuh Ramadhan dan persiapan menuju Lailatul Qadar.
Pada momen ini warga memasak ketupat dan sayur pendamping, kemudian membawanya ke masjid/musala menjelang Maghrib untuk didoakan (tahlilan) dan dibagikan kembali atau dimakan bersama.
Tradisi ini mempererat silaturahmi dengan berbagi hasil masakan antar tetangga.
Tradisi ini adalah contoh akulturasi budaya lokal dengan ajaran Islam, yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah sekaligus merawat hubungan antar sesama.
Bukan Perayaan Biasa
Laman Antara membahas, bagi masyarakat yang menjalaninya, qunutan bukan sekadar perayaan biasa, tetapi juga menjadi bentuk rasa syukur sekaligus ajang mempererat kebersamaan.
Dalam perayaan ini, ketupat yang telah matang akan dibawa ke masjid menjelang waktu maghrib.
Setelah berbuka puasa di rumah masing-masing, warga kembali ke masjid untuk melaksanakan shalat maghrib berjamaah yang kemudian dilanjutkan dengan tahlilan.
Salah satu ciri khas dari tradisi ini adalah pembagian ketupat kepada para jamaah secara acak. Dengan cara ini, setiap orang berkesempatan mencicipi hasil masakan dari tetangga mereka.
Selain sebagai bentuk kebersamaan, qunutan juga menjadi simbol rasa syukur umat Islam atas pencapaian setengah perjalanan di bulan Ramadan.
Awal Mula
Laman Antara juga membahas, meski tidak ada catatan pasti mengenai awal mula tradisi ini, beberapa sumber menyebut bahwa qunutan telah ada sejak zaman Kesultanan Demak pada tahun 1524, ketika pengaruh Islam mulai menyebar ke wilayah barat, termasuk Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten.
Dikisahkan bahwa Sunan Gunung Jati, dengan dukungan pasukan Demak, berhasil menguasai pelabuhan Banten dan mendirikan Kesultanan di sana. Sebagai bentuk perayaan dan untuk mendapatkan berkah di bulan suci, ketupat kemudian dibagikan kepada masyarakat.
Selain sebagai ajang berbagi makanan, qunutan juga memiliki sudut pandang spiritual. Dalam tradisi ini, umat Islam dianjurkan membaca doa qunut saat shalat tarawih, yang diyakini sebagai doa penolak bala.
Kepercayaan ini didasarkan pada pemahaman bahwa 15 hari terakhir Ramadhan penuh dengan ujian dan godaan yang dapat mengganggu kekhusyukan dalam beribadah. Oleh karena itu, membaca doa qunut diharapkan dapat memberi keteguhan hati bagi mereka yang menjalankan puasa.
Selain itu, qunutan menandai dimulainya bacaan surat baru dalam shalat tarawih, yakni dari Surah At-Takasur ke Surah Al-Qadr. Surah Al-Qadr dipilih sebagai bacaan pertama setelah qunutan, mengingat malam-malam berikutnya diyakini sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Setelah malam qunutan, umat Islam juga sudah diperbolehkan menunaikan zakat fitrah sebagai bagian dari persiapan menyambut Idul Fitri. (Zee)







