Traveling

Kurulu, Bunga Khas Pegunungan Papua

ZETIZENS.ID – Kalau kamu ke Papua dan ketemu penjual bunga Wamena atau bunga Kurulu jangan heran ya. Ini adalah bunga khas pegunungan Papua, terutama Wamena dan Lembah Baliem.

Bunga Wamena terkenal karena bentuknya unik seperti plastik dan warnanya cerah, serta sangat awet hingga berbulan-bulan meski sudah dipetik, membuatnya populer sebagai suvenir dan simbol kekayaan alam Papua.

Bunga ini sering disebut ‘bunga abadi’ karena warnanya tidak pudar meski dikeringkan.

Bunga ini memiliki kelopak berwarna cerah dengan corak alami yang menyerupai lukisan, teksturnya terasa seperti plastik saat disentuh.

Bunga Wamena bahkan bisa bertahan lama hingga berbulan-bulan tanpa layu, bahkan setelah dipetik, ini menjadikannya ‘bunga abadi’ Papua.

Bunga ini kerap djual oleh mama-mama Papua di pasar tradisional sebagai suvenir khas yang diburu wisatawan.

Menjadi simbol kekayaan alam dan budaya Papua yang unik, bunga ini juga digunakan sebagai hiasan, bahan kerajinan tangan, dan suvenir.

Nama ilmiah bunga ini adalah Helichrysum. Pemkab Jayawijaya bahkan melakukan gerakan menanam bunga Kurulu untuk menjaga lingkungan dan keaslian bunga ini.

Kertas

Laman Disway Malang membahas, secara ilmiah, Bunga Kurulu termasuk spesies Xerochrysum bracteatum dari famili Asteraceae. Kelopaknya yang kering dan bertekstur seperti kertas membuatnya tampak seperti bunga buatan, padahal merupakan bunga asli.

Nama “Kurulu” berasal dari bahasa lokal masyarakat Papua, khususnya di sekitar Lembah Baliem, yang telah lama mengenal dan menghargai keindahan bunga ini.

Keindahan utama Bunga Kurulu terletak pada kombinasi warna-warni bractea (daun pelindung) yang cerah dan daya tahannya yang luar biasa. Bunga ini tidak menghasilkan aroma yang kuat, tetapi mengandalkan daya tarik visualnya.

Warna bractea sangat bervariasi dan mencolok, mencakup spektrum kuning keemasan, oranye, merah muda, putih, hingga merah dan ungu. Bunga majemuk yang sesungguhnya, disebut floret, berukuran kecil dan terletak di tengah, biasanya berwarna kuning atau coklat.

Di pasar internasional dan hortikultura, bunga ini lebih populer dengan sebutan ‘Everlasting Daisy’ atau ‘Strawflower’.

Merujuk pada sifat bractea bunganya yang tidak mudah layu dan tetap mempertahankan warna cerahnya bahkan setelah dikeringkan.

Dalam keadaan kering, bunga ini dapat mempertahankan warna dan bentuknya selama berbulan-bulan hingga tahunan. Sehingga banyak digunakan untuk karangan bunga abadi, dekorasi interior, campuran potpourri, dan kerajinan tangan seperti penghias bingkai atau kartu ucapan.

Keunikan ini tidak hanya menarik wisatawan dan kolektor, tetapi juga memberi peluang ekonomi bagi masyarakat lokal melalui kerajinan tangan dan dekorasi rumah.

Lebih dari itu, bunga ini menjadi simbol keanekaragaman hayati dan budaya Papua yang perlu dilestarikan.

Di pasaran, harga Bunga Kurulu bervariasi tergantung bentuk (segar vs. kering), kualitas, warna, dan panjang tangkai. Sebagai ilustrasi, satu tangkai bunga kurulu kering berkualitas tinggi dapat dihargai mulai dari Rp5.000 hingga Rp15.000 di tingkat pengecer domestik. (Zee)

Tulisan Terkait

Back to top button
zetizens.id