Es Gabus, Jajanan Jadul yang Lagi Viral

ZETIZENS.ID – Belakangan ini es gabus warna-warni pelangi lagi banyak dibahas netizen. Daripada bahas isunya, kita bahas jajahannya aja yuk.
Laman Unsia membahas, kuliner tradisional Indonesia tidak pernah kehabisan pesona untuk dibicarakan. Di tengah gempuran tren makanan kekinian yang silih berganti, terdapat satu jajanan lawas yang belakangan ini kembali viral dan mencuri perhatian publik, yaitu es gabus.
Untuk generasi yang tumbuh pada era 90-an hingga awal 2000-an, nama jajanan ini tentu membangkitkan memori masa kecil yang manis.
Kehadirannya kembali di berbagai lini masa media sosial bukan hanya sekadar tren visual, melainkan sebuah ajakan untuk bernostalgia mengenang masa-masa sekolah dasar di mana jajanan ini menjadi primadona yang selalu dinanti saat bel istirahat berbunyi.
Dinamakan es gabus bukan tanpa alasan yang jelas. Nama ini merujuk secara spesifik pada tekstur uniknya yang padat namun ringan, menyerupai gabus atau styrofoam saat digigit. Tapi bukan berarti terbuat dari gabus atau styrofoam ya.
Sensasi ini berbeda jauh dengan es krim modern yang umumnya lumer dan creamy atau es lilin yang keras seperti batu es. Saking ikoniknya tekstur dan popularitas jajanan ini, istilah es gabus kini telah resmi masuk dan tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI.
Pengakuan dalam kamus resmi ini sekaligus meluruskan mitos keliru yang sempat beredar di kalangan awam bahwa jajanan ini terbuat dari bahan non-pangan seperti spons.
Faktanya, es gabus adalah penganan yang sepenuhnya aman dan terbuat dari bahan-bahan alami yang lazim ditemukan di dapur Indonesia.
Rahasia di balik tekstur unik menyerupai gabus tersebut terletak pada bahan utamanya, yaitu tepung hunkue.
Tepung ini berasal dari pati kacang hijau yang memiliki karakteristik mengenyalkan namun tidak selengket tepung kanji.
Proses pembuatannya dimulai dengan mencampurkan tepung hunkue bersama santan atau susu dan gula pasir.
Campuran ini kemudian dimasak di atas api sedang sambil terus diaduk hingga mengental seperti bubur yang padat. Adonan yang masih panas ini lantas dituang ke dalam loyang dan dibiarkan dingin hingga memadat sempurna sebelum akhirnya dipotong-potong dan dibekukan di dalam lemari pendingin.
Untuk menarik perhatian anak-anak, pembuatnya sering kali membagi adonan menjadi beberapa bagian dan memberinya pewarna makanan yang berbeda, lalu menumpuknya sehingga menghasilkan tampilan warna-warni layaknya pelangi.
Kini, meskipun penjual keliling yang menjajakan es gabus semakin sulit ditemui di depan gerbang sekolah, eksistensinya tidak benar-benar punah.
Viralnya es gabus membuktikan bahwa cita rasa klasik yang sederhana tetap memiliki tempat di hati masyarakat modern.
Banyak orang kini mencoba membuat sendiri resep ini di rumah sebagai sarana mengenalkan jajanan masa kecil mereka kepada anak-anak generasi sekarang.
Es gabus mengajarkan kita bahwa kenikmatan kuliner tidak selalu harus datang dari bahan-bahan impor yang mahal atau teknik pembuatan yang rumit.
Terkadang, kebahagiaan itu hadir dalam sepotong es beku berbahan tepung kacang hijau yang menyimpan ribuan cerita masa lalu yang tak lekang oleh waktu.
Viral Lagi
Seperti dibahas di awal, laman RRI membahas, es gabus kembali menjadi perbincangan publik setelah viralnya kasus es gabus berbahan spons.
Fenomena ini membuat jajanan jadul tersebut kembali mencuri perhatian masyarakat dan membangkitkan nostalgia masa kecil banyak orang.
Jauh sebelum viral, es gabus dikenal sebagai jajanan legendaris yang populer di era sebelumnya. Es ini dipercaya telah ada sejak masa kolonial Belanda dan mendapat pengaruh budaya Tionghoa.
Meski asal daerahnya belum diketahui secara pasti, beberapa sumber menyebut Yogyakarta dan Pontianak sebagai daerah yang erat dengan keberadaan es gabus.
Nama es gabus sendiri diambil dari teksturnya yang kenyal dan lembut menyerupai gabus. Salah satu bahan utamanya adalah tepung hunkwe, yang berasal dari istilah Tionghoa “hún-kué”.
Es gabus biasanya dijual keliling menggunakan sepeda atau gerobak dan banyak diminati anak-anak sekolah karena rasanya manis, segar, dan harganya terjangkau.
Seiring waktu, keberadaan es gabus mulai jarang ditemui. Namun, masyarakat kini tetap bisa menikmatinya dengan membuat sendiri di rumah. Bahan-bahannya sederhana dan proses pembuatannya pun relatif mudah.
Untuk membuat es gabus, diperlukan air, gula, santan, tepung hunkwe, susu kental manis, garam, serta pewarna makanan. Semua bahan dimasak hingga mengental, lalu dituangkan berlapis ke dalam loyang sesuai warna yang diinginkan sebelum dibekukan.
Dengan warna yang menarik dan cita rasa manis menyegarkan, es gabus menjadi pilihan camilan yang cocok dinikmati di tengah cuaca panas. Selain bernostalgia, membuat es gabus sendiri juga bisa menjadi aktivitas menyenangkan bersama keluarga di rumah.
Kamu pernah coba jajanan ini, Zet? (Zee)







