Highlight

PLN UID Banten Perkuat Budaya K3, Pastikan Setiap Pekerja Kembali dengan Selamat

ZETIZENS.ID — Memastikan setiap pekerja kembali ke rumah dengan selamat menjadi perhatian utama PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Banten dalam memperkuat budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Bersama Lembaga Pelayanan dan Pengabdian Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (LPPKM FKM UI), PLN UID Banten mengukur penerapan budaya keselamatan sebagai dasar perbaikan perlindungan bagi pegawai dan mitra kerja.

Melalui Safety Culture Assessment Level (SCAL) yang berlangsung pada 29–30 September 2026, pengukuran dilakukan untuk melihat bagaimana keselamatan menjadi bagian dari kebiasaan bekerja, mulai dari pengambilan keputusan hingga pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

Hasilnya akan menjadi dasar untuk menentukan langkah perbaikan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan unit.

Vice President Strategi dan Tata Kelola Divisi HSSE PT PLN (Persero) Kantor Pusat, Leiden Brix Hutapea, mengatakan assessment menjadi ruang untuk melihat kondisi budaya keselamatan secara terbuka dan objektif.

“Yang paling penting dari proses ini adalah keterbukaan. Silakan sampaikan kondisi yang sebenarnya, karena dari sana kita bisa melihat apa yang sudah baik dan apa yang masih perlu diperbaiki. Harapannya, assessment ini memberikan gambaran yang utuh sehingga budaya keselamatan di PLN UID Banten dapat terus berkembang,” ungkap Leiden.

Tahun ini, pengukuran baseline SCAL dilakukan di 9 unit bisnis PLN dengan pendampingan dari LPPKM FKM UI. SCAL menggunakan 20 kriteria yang disusun sesuai dengan karakteristik bisnis PLN, di antaranya kepemimpinan dan komitmen manajemen, pengelolaan risiko K3, Contractor Safety Management System (CSMS), investigasi insiden, hingga Budaya Perilaku Selamat (BBS).

General Manager PLN UID Banten, Tonny Bellamy, menekankan bahwa budaya keselamatan pada akhirnya tercermin dari bagaimana setiap pekerjaan dilakukan, terutama di lapangan.

“Pengawasan pekerjaan harus benar-benar kita jalankan sesuai SOP. Bukan hanya memastikan pekerjaannya selesai, tetapi memastikan setiap orang yang bekerja bisa kembali ke rumah dengan selamat. Karena itu, saya mengajak seluruh rekan-rekan untuk mengikuti assessment ini secara jujur dan terbuka. Kita ingin melihat kondisi yang sebenarnya agar perbaikannya juga tepat,” tuturnya.

Perwakilan konsultan LPPKM FKM UI, Yuni Kusminanti, menjelaskan bahwa assessment menjadi bagian dari upaya mengidentifikasi room for improvement dalam penerapan budaya K3 di lingkungan PLN UID Banten.

“Kami ingin mengetahui bagaimana budaya K3 yang selama ini dibangun benar-benar diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari, termasuk sampai ke lapangan. Dari sana kita dapat mengidentifikasi bagian yang sudah berjalan baik dan area yang masih memiliki ruang untuk diperbaiki,” jelas Yuni.

Proses pengukuran dilakukan melalui tiga instrumen, yakni survei SCAL individu, wawancara, dan Focus Group Discussion (FGD).

Tim LPPKM FKM UI melaksanakan FGD dalam 15 kelompok dan wawancara sebanyak 22 sesi yang melibatkan unsur manajemen, pegawai, serta mitra kerja, baik secara luring maupun daring. Hasil pengukuran selanjutnya akan memetakan tingkat kematangan budaya K3 ke dalam lima level, yaitu Pathological, Reactive, Calculative, Proactive, hingga Generative.

Bagi PLN UID Banten, hasil SCAL menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya keselamatan secara berkelanjutan. Budaya keselamatan tidak berhenti pada pemenuhan standar, tetapi diwujudkan melalui kebiasaan setiap individu dalam memastikan pekerjaan berlangsung aman.

Dengan demikian, keselamatan insan PLN dan mitra kerja tetap terjaga, sekaligus mendukung layanan kelistrikan yang andal bagi pelanggan. (Hilal)

Hilal Ahmad

Gen Z Enthusiast yang suka menulis apa pun dan bertualang ke mana pun!

Tulisan Terkait

zetizens.id