Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan Unpam Serang Gelar Seminar Pendidikan Politik di SMA Negeri 1 Lebak Wangi

ZETIZENS.ID – Pada Jumat, 28 November 2025 lalu, mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Pamulang Kampus Serang melakukan kegiatan PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat) yang dipimpin Muhammad Tegar sebagai ketua kelompok dan rekan timnya, Halalan Toyiba, Anisa Fitri, dan Nabil Ramadhan.
Berlokasi Di SMA Negeri 1 Lebak Wangi Kabupaten Serang Provinsi Banten, kegiatan ini berupa Seminar Pendidikan Politik dengan tema “Mewujudkan Pemilih Rasional di Tengah Arus Informasi & Dis’informasi Menuju Pemilu 2029 Bebas Money Politik.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Perpustakaan SMA Negeri 1 Lebak Wangi ini sasaran kegiatannya adalah siswa & siswi Kelas X, XI, IX dengan total 50 peserta.
Seminar ini membahas, dalam lanskap politik kontemporer, pemilih rasional bukan hanya sebuah harapan normatif, tetapi prasyarat mutlak bagi terbangunnya demokrasi yang sehat.
Tantangan terbesar hari ini adalah derasnya arus informasi yang bercampur dengan disinformasi, propaganda digital, serta narasi-narasi populis yang sering kali menyesatkan persepsi publik.
Di tengah kondisi tersebut, kualitas partisipasi politik masyarakat menjadi taruhan besar menjelang Pemilu 2029.
Pemilih rasional hanya dapat terwujud apabila masyarakat memiliki kemampuan menilai informasi secara kritis memisahkan fakta dari opini, data dari manipulasi, dan kepentingan publik dari kepentingan elit.
Literasi digital menjadi kunci untuk membangun ketahanan warga terhadap echo chamber, hoaks, serta operasi politik yang memanfaatkan kerentanan psikologis pemilih.
Dalam konteks ini, lembaga pendidikan, komunitas mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, serta kelompok pemuda punya peran strategis dalam memperluas akses edukasi politik berbasis data dan argumentasi yang logis.
Upaya mewujudkan pemilu bebas money politics pun tidak dapat dilepaskan dari tumbuhnya pemilih rasional.
Politik uang hidup subur ketika pemilih kehilangan kepercayaan terhadap institusi politik dan merasa tidak memiliki posisi tawar.
Maka, meningkatkan kesadaran tentang hak-hak politik, memperkuat integritas kandidat, dan mendorong transparansi pendanaan politik adalah keharusan.
Gerakan kolektif anti-politik uang harus dibangun dari akar rumput, dengan menjadikan praktik jual-beli suara sebagai tindakan yang merugikan masa depan generasi sendiri.
Menuju Pemilu 2029, agenda utama bukan hanya memilih pemimpin, tetapi membangun kultur politik baru: politik yang berbasis gagasan, bukan transaksional; politik yang bertumpu pada integritas, bukan manipulasi; dan politik yang menghormati kecerdasan rakyat, bukan memperdagangkannya.
Hanya dengan pemilih yang rasional, sadar informasi, dan berani menolak politik uang, demokrasi Indonesia dapat bergerak menuju babak yang lebih dewasa dan berkeadaban.
Ketua kelompok sekaligus narasumber Seminar Pendidikan Politik Muhammad Tegar menyampaikan tujuan kegiatan yakni meningkatkan literasi politik masyarakat
Membekali peserta dengan pemahaman dasar mengenai proses pemilu, peran pemilih, serta pentingnya partisipasi politik yang bertanggung jawab dan berintegritas.
“Selain itu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam mengolah informasi mendorong pemilih agar mampu memilah, mengevaluasi, dan memverifikasi informasi politik di tengah maraknya disinformasi, misinformasi, dan propaganda digital. Tujuan lain, membentuk sikap pemilih rasional dan mandiri. Menumbuhkan pola pikir yang objektif dalam menentukan pilihan politik berdasarkan program, rekam jejak, serta integritas kandidat, bukan karena tekanan maupun pengaruh emosional,” jelasnya.
Tujuan lainnya adalah meningkatkan kesadaran tentang bahaya money politics. Memberikan pemahaman mengenai dampak negatif politik uang terhadap kualitas demokrasi, pemerintahan, serta kesejahteraan masyarakat jangka panjang.
Selanjutnya tujuannya adalah mendorong penolakan aktif terhadap praktik money politics. Kegiatan ini mengajak pemilih untuk memiliki kesadaran moral dan keberanian menolak pemberian materi, imbalan, atau janji politik yang bersifat transaksional.
Membentuk komunitas pemilih cerdas dan anti-hoaks adalah tujuan lainnya. Menciptakan jejaring pemilih muda dan masyarakat yang mampu menjadi agen edukasi, penyebar informasi benar, serta penangkal hoaks politik di lingkungannya.
Tujuan terakhir adalah mewujudkan ekosistem pemilu yang lebih sehat dan beretika. Berkontribusi dalam menciptakan budaya politik yang bersih dengan mengurangi pengaruh disinformasi, manipulasi opini, dan praktik politik uang menjelang Pemilu 2029.
Narasumber kedua, Halalan Toyyiba mengatakan, pemilih rasional merupakan individu yang mengambil keputusan politik berdasarkan pertimbangan logis, informasi yang valid, serta analisis atas program dan rekam jejak kandidat.
Teori pemilih rasional (rational choice theory) menekankan bahwa seseorang memilih bukan karena emosi, tekanan sosial, ataupun imbalan materi, tetapi karena menilai kandidat mana yang memberikan manfaat terbesar bagi kepentingan publik.
Menurut Downs (1957), dalam teori An Economic Theory of Democracy, pemilih membuat pilihan layaknya pengambilan keputusan ekonomi: membandingkan biaya, manfaat, dan risiko.
Dalam konteks pendidikan di tingkat SMA, pembentukan pemilih rasional dapat dimulai melalui literasi politik, pemahaman demokrasi, serta kemampuan menilai informasi politik secara objektif.
Hasil yang diharapkan setelah kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berlokasi di SMA N 1 Lebak Wangi, siswa mampu menjelaskan konsep pemilih rasional, siswa dapat mengidentifikasi contoh disinformasi, mampu melakukan cek fakta dasar, memahami bentuk dan bahaya money politik, dan menunjukkan sikap menolak hoaks dan money politik. (Zee)







